Cerita Sex – Sex Report di Denpasar Bali setelah gambar artis ngemut kontol jumbo yang sexy

✪ Topik: Foto Telanjang Cerita Sex – Sex Report di Denpasar Bali sudah pasti sexy

Cerita Sex – Sex Report di Denpasar Bali Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 1997. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan buat mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder bisa pula menawarkan barang baru ke toko-toko jumbo maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tak kukenal (karena biasanya adalah orang lain). Orangnya cantik, berwajah oval, lucu, berkulit kuning langsat dan sangat merangsang. Bodinya yang sangat semok, pinggang yang ramping, berpantat jumbo, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam enak. Siapapun pria yang menontonnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu.
“Selamat siang”, sapaku.
“Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yang halus.
“Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,”
Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, ketahuan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa menonton belahan payudaranya yang jumbo itu.
“Baik tunggu sebentar,” jawabnya sambil tersenyum lucu, kemudian dia menelepon bagian pembelian.
Sambil menunggu itu tak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cw (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.
“Hallo Yu,” sapaku.
“Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?” sahutnya.
“Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?” tanyaku langsung.
Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini.
“Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?” tanyanya sambil tersenyum.
Belum sempat kujawab, Si Binal Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi..
“Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni,” Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa sexy.

Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya cuma terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya. Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya.

Pertemuan kami selanjutnya cuma di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya. Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku. Kaget juga menonton penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu cuma dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih suka berada di dapur seperti saat itu.

Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang jumbo dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya.
“Kamu ternyata nakal juga ya, Ron,” katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya.
“Habis sampeyan sangat menggairahkan dan menggemaskan,” jawabku sambil melancarkan serangan.
Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti tak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat buah zakarku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan. Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya.

Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, cuma saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya. Aku sudah hampir melupakan niatku buat bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya buat menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota).

Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tak ingin ceroboh lagi.
“Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?” tanyaku sehabis beberapa lama berbasa-basi.
“Empat hari. Eh, mau minum, Ron?”tanyanya.
“Boleh,” jawabku.
“Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum lihat. Kamu sudah pernah lihat tak?”
Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu.
“Mana sih, aku lihat dulu judulnya,” jawabku.
Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandari yang XX alias semi.
“Yang dua sudah lihat sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen lihat yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja,” jawabku sambil berpikir buat mencumbunya.
“Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,”jawabnya.
Pikirku, wah kesempatan, nih. “Gak apa-apa kan, emangnya tak boleh?” tanyaku memancing.
“Boleh sih, yuk, kita ke kamarku,” jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu.

Setibanya di dalam, kami berdua duduk lucu di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba buat melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tak bereaksi. Lalu aku makin berani buat membelai kepala dan rambutnya yang enak dan lembut. Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan.
“Ih, geli, Ron”katanya sambil bergidik.
“Tenang aja, sampeyan sedapi ya,”jawabku.
Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha buat membuka pertahanannya yang manapun. Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik.
“Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga tak disaksikan, sekaligus lampunya ya,”katanya sambil sedikit terengah.
“Oke,”jawabku.

Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan cuma diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa menonton jelas semuanya. Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia cuma memakai BH dan roknya. Kemudian sehabis beberapa lama;
“Ron, kita buka aja semua yuk,” ajaknya.
“Ayuk,”jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya.
Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum lucu, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang jumbo, dan terutama daerah kemaluannya yang tak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus. Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang merangsang sambil tangan kiriku mulai memainkan payudaranya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga jumbo dan padat.

Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa.
“Ron, buah zakarmu keras sekali,”katanya sambil mendesah.
Aku tak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian payudaranya yang kuhisap dan kujilati perlahan. Aku menonton payudaranya yang jumbo dan merangsang banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menonton payudaranya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat. Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menonton cumbuanku, tangannya tak lepas dari buah zakarku, membelainya lembut.

Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi rambut-bulu yang hitam, lembut dan tak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis.
“Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,”desisnya.
Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas. Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar enjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu. Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan tubuhnya makin mengejang.

Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke payudaraku sambil tangannya membelai lembut buah zakar dan testisku. Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, buah zakarku tak terlalu jumbo, tapi sangat kencang dan keras). Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tak disangka (karena aku menonton sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala buah zakarku. Aku sempat kaget karena tak menyangka dia akan melakukannya.

Aku sedapi saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum buah zakarku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku. Cukup lama dia menjilati buah zakarku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas buah zakarku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas buah zakarku. Tempiknya yang lembut dan licin serasa memijit buah zakarku yang keras.
“Oh,..enaknya..ss.ss.ss,”erangnya.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku.
“Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,”bisiknya sambil terengah.

Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku sedapi saja permainannya, sampai kemudian..
“Aku masukin ya adikku,”kataku.
“Ya, tapi pelan-pelan ya, “jawabnya.
Maka aku mulai memasukkan buah zakarku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya..
“Lin..aku..mau..kell..luar,” dan tersemburlah spermaku ke liangnya.
Kemudian aku lemas. Aku biarkan buah zakarku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku.

Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang). Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya.

Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tak ingin orang lain tahu perbuatan kami.

Tamat

Faktaterbaru,cerita dewasa, kumpulan cerita sex,cerita sex dewasa, cerita seks dewasa,tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita cabul artis,cerita hot artis, cerita sex,cerita kenikmatan,cerita cabul,cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Onani,cerita seks wanita nakal,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita cabul

=====

✪ Kamu bisa mengunduh photo tanpa pakaian ✪ Topik: Foto Telanjang Abg ONANI Ngentot di Rumahku sudah pasti sexy




Anak saya yang SMA itu namanya Bayu. Teman-teman Bayu suka main dan menginap di apartemen kami. Kadang-kadang numpang tidur siang juga. Biasa lah anak-anak. Ada satu temannya yang paling rapat dengan anak saya, namanya Hasan. Mereka sekelas dan dari SMP kelas 1 memang sudah berteman. Hasan ini sangat sopan kepada saya, dia selalu panggil saya Mama. Saya juga kenal baik ibu Hasan yang rumahnya satu condo dengan saya. Walau Bayu sedang keluar, Hasan masih tetap suka juga datang dan ikut lihat TV, bisa pula malah numpang istirahat di kamar Bayu.
Walau Hasan sangat sopan, tetapi saya juga maklum,bahwa di usia yang abg ini, dia mesti sedang mekar-mekarnya dan mencari tau mengenai lawan jenis. Saya kadang-kadang bercanda juga sama dia mengenai soal punya pacar, tetapi dia cuma nyengir dan senyum malu. Katanya kalau anak-anak perempuan SMA sih payah, tak menarik. Kalau udah gitu kita jadi saling bergurau, walau tetap sopan. Di rumah saya biasa pakai daster enak yang sampai di bawah lutut. Sopan deh pokoknya. Yang saya tak menyadari adalah Hasan memiliki perasaan tertarik ke saya. Mungkin karena kita suka ngobrol di apartemen, ada Bayu bisa pula tak ada Bayu, Hasan dan saya tetap saja masih juga ngobrol. Entah ya, mungkin dia pikir tingkah laku dan cara saya ngomong elegan gitu (maklum kan ibu-ibu mesti elegan). Dia sangat memperhatikan saya. Saya sih senang saja diperhatikan. Walau saya awalnya tak curiga bahwa perhatian Hasan itu ada makna yang lain. Tetapi lama-lama saya rasa dia suka memperhatikan gerak gerik saya dari ekor matanya, dan kalau saya pandang balik, dia pura-pura menonton ke arah lain. Apa dia mulai memperhatikan tubuh saya?

Walau saya sangat terhormat di lingkungan kami, dan di antara ibu-ibu. Tiada orang yang tahu bahwa saya sangat suka browse internet dan terutama membaca cerita-cerita yang erotik. Jadi kalau buat member-member DS sih mesti udah maklum dak kebayang deh bagaimana imajinasi dan lamunan saya akibat didikan DS. Di DS, yang saya suka itu baca cerita seru dan kadang-kadang es-lilin.
Balik pada cerita saya, saya pun mulai juga mikirin si Hasan ini, dan menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiran dia. Nah, episode yang berikut ini menyadarkan saya apa yang tengah terjadi.

Suatu hari Hasan main ke rumah dan biasa ngobrol dengan Bayu dan saya di ruang tamu. Saya ketahuan minta Bayu pergi buat beli sesuatu keluar. Walau diajak, Hasan menolak buat ikut dengan alasan males tubuh lagi capek. Jadi sambil beresin rumah, saya ngobrol dan bergurau dengan dia. Lagi-lagi terasa betapa intensnya cara dia ngomong ke saya dan juga cara dia memandang.

Sekitar pukul 5 sore, sesuai dengan kebiasaan harian, sehabis beres-beres saya mandi. Kebetulan saja saya mandi di kamar mandi dekat dapur, bukan di ruang tidur utama (istilahnya master bedroom). Tiba-tiba selintas saya menonton kelebat bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak kecil pada sambungan papan di pintu bagian bawah. Rasanya ada yang menonton. Kalau ada yang ngintip mungkin bisa keliatan kaki saya bagian bawah sampai lutut dan paha bagian bawah saya. Tapi siapa? Bukankah di rumah cuma ada Hasan, lagi pula dia kan pemuda yang sopan. Ah, mungkin cuma ketahuan. Saya balik lagi meneruskan mandi. Saya bersihkan seluruh tubuh. Tiba-tiba saya menonton lagi bayangan tadi. Ah, ini pasti Hasan. Tetapi hendak apa dia? Apakah dia sedemikian ngebetnya ingin buang air hingga menantiku dengan tak sabarnya? Tiba-tiba bayangan cerita-cerita di DS menerpa, ah apakah memang dia tertarik pada saya dan menyimpan nafsu tersendiri? Apa ini bukan pertama dia menonton saya sedang mandi. Atau jangan-jangan dia menonton saya juga di kamar, bisa pula tempat lain?

Selesai mandi saya lihat Hasan sedang duduk membaca majalah. Saya ke kamar, bukan buat ganti baju, tetapi cuma menyisir di depan cermin saja. Lagi-lagi saya merasa diperhatikan dari balik pintu yang memang tak saya tutup. Gerakan Hasan di balik pintu tampak dari cermin saya. Saat saya keluar kamar ternyata Hasan di sofa dan saya yakin dia cuma pura-pura saja baca majalah. Tiba-tiba saya teringat ada janji mau ketemu tetangga di condo, ada titipan dari kawan yang mesti saya ambil. Saya beri tahu Hasan, saya akan ke tempat ibu Susi, dan balik kira-kira sejam, jadi tolong titip rumah.

Sampai di apartemen bu Susi, ternyata terkunci karena sedang ke luar. Wah bisa-bisanya janjian tapi ditinggal pergi begini. Terpaksa saya balik lagi ke rumah, yang semula maunya balik sesudah 1 jam, ini baru 15 menit sudah sampai rumah lagi.

Walau pintu dikunci, saya tau Hasan ada di dalam. Bayu pastilah belum sampai rumah lagi. Saya buka dengan kunci saya sendiri pelan-pelan, dan masuk ke dalam. Karena di ruang tamu tak ada orang, saya yakin Hasan mesti di kamar Bayu anak saya, mungkin main computer seperti kebiasaan mereka. Di luar pintu kamar, saya mendengar suara menderit-derit krek, krek, krek, berulang-ulang. Saya jadi ingin tahu, saya buka perlahan pintu kamar Bayu. Penginapan-kamar di tempat saya memang tak berkunci, kecuali pintu masuk dan pintu master bedroom. Pintu terbuka sedikit dan saya bisa menonton ke dalam dari celah sempit itu. Dan di dalam Hasan sedang duduk di bangku computer. Celana enaknya telah turun dan teronggok di lantai dibawah bangku. Celana dalamnya tak tampak lagi. Posisi Hasan menyamping dari saya tapi karena jaraknya yang sangat dekat ke pintu, saya dapat menonton semua dengan jelas.

Sekarang ini mata Hasan tertutup rapat dan bernafas berat, dengan kaki membuka, dan tangannya mencengkeram erat batang anunya yang sedang tegak berdiri. Suara krik krik krik bangku terdengar karena irama tangannya yang mengocok batang keras itu berirama. Selain dari photo es lilin di internet, setelah milik suami, saya tak menonton lagi pria tanpa pakaian secara langsung. Dan tiba-tiba sekarang saya menonton pemuda abg yang sedang terangsang berat. Batang tegang Hasan yang tengah dia remas keras-keras itu tampak enak, kira-kira 12-13 cm berukuran langsing, dan tampak agak melengkung sedikit. Kulit batangnya tampak kemerahan karena Hasan memang putih kulitnya. Kedua kulit kantung telurnya tampak bersih tak berambut. Ada sedikit rambut halus dan jarang di daerah pubicnya. Saya bisa menonton kepala batangnya berlumuran dengan air mazi bening, dan tampak merah keras berkilat. Dari tempat saya menonton, saya bisa menonton sedikit pada layar computer dan menonton photo seorang perempuan bule yang sudah dewasa (ibu-ibu) sedang melakukan oral sex mengisap buah zakar pemuda bule. Batang pemuda bule itu sudah tampak tak tegang lagi dan diisap seperti lollipop. Muka perempuan bule itu berlumuran mani si pemuda. Saya heran, kenapa Hasan onani dengan menonton perempuan dewasa dan bukannya perempuan muda. Tiba-tiba terbukalah pikiran saya. Selama ini Hasan tak menyukai anak perempuan SMA karena dia lebih mengagumi perempuan dewasa. Dan itu sebabnya dia sangat memperhatikan saya.

Terdengar oleh saya, Hasan menggumam sambil terus meremas dan mengocok batangnya. Walau tak jelas yang dibisikkan, tapi sepertinya dia menggumam,
“Auh wanita nakal, jilat terus, remes dan jilat. Isep sampai Hasan keluar mani wanita nakal”.

Saya kurang pasti, apa yang dikatakan, karena memmang tak jelas. Saya lihat pinggulnya mulai naik turun di atas bangku yang diduduki. Sebagai perempuan dewasa yang sudah berpengalaman, saya tahu dia mesti sudah hamper-hampir memancurkan air maninya. Saya rasa sedikit tak enak hati menonton macam ini, tapi saya tak sanggup buat mengalihkan pandangan mata saya dari batangnya yang merah dan basah ujungnya karena remasan-remasan yang kencang itu. Saya merasa daerah kemaluan di antara kedua paha saya mengecup-kecup dan kegatalan muncul di daerah itu. Saya yakin, kebasahan mulai terjadi di sana. Sama dengan efek yang terjadi masa saya membaca cerita di DS.

Hasan mulai terdengar mengerang keras. Dia onani dan berfantasi dengan bebas tak menyangka kalau saya sudah balik ke rumah dan menyaksikan pemandangan yang indah ini.
Erangannya terdengar jelas, “Ya ya wanita nakal, isep air maninya, isep kepala kontolku wanita nakal, isep airnya ….. ahhhh…”.
Sambil mengerang demikian, tiba-tiba dia muncrat dan memancar aliran ke atas. Pancrutan itu naik ke atas dan akhirnya jatuh lagi memancur ke bawah mengenai seluruh bagian perut dan daerah kemaluannya. Saya tak pernah menonton pancrutan air mani yang demikian kencang. Tapi memang ini pertama kali saya menonton onani abg yang sedang mengeluarkan air maninya.

Saat itu saya sudah sexy dingin, kepala saya terasa mengambang. Meki saya terasa berdenyut dengan kegatalan yang melanda. Saya juga merasa bagian dalam lubang kenikmatan saya mulai mengembun dan menerbitkan kebasahan yang sangat. Tetapi pemandangan yang saya saksikan tak membuat saya beranjak pergi.

Luar biasa sekali, walau telah mengeluarkan air mani, batang Hasan tak juga menyurut lunak. Batang itu masih tampak keras dan diselimuti oleh kebasahan mani dan mazi yang ditumpahkan. Hasan masih mengurut-urut lembut batangnya. Dia tampak merubah photo di layar komputer, dan kini terpampang photo lain lagi. Seorang pemuda Cina (atau Jepang) berbaring, dan seorang perempuan dewasa (Jepang juga bisa pula Cina) jongkok di atasnya dan memposisikan bawuknya dan anusnya di atas muka pemuda yang tampaknya seperti sedang menjilati. Bagian mulut dan hidung pemuda tadi tampak tenggelam di dalam kerimbunan rambut vagina si perempuan. Sambil jongkok perempuan tadi yang tampak sedang kenikmatan, juga memegang batang kemaluan pemuda tadi.

Kembali Hasan mengocok batangnya yang berlumuran mani itu. Batang itu sama sekali tak mereda kekerasannya, enaknya tetap tegar sepanjang 13 cm. Dan tampak berkilat karena cairan putih yang menyelimuti. Kepala batangnya tampak semakin merah. Hasan mengocok sambil menjilati bibirnya, sedikit mani ia oleskan dari batangnya ke bibir.

Sambil terus mengocok dan mengecap bibir Hasan mengerang “Gimana jilatan Hasan wanita nakal..? Enak wanita nakal? Aduh ah Hasan mau liat vagina wanita nakal? Jembutnya lebat mesti ya punya wanita nakal…? AH kocok juga punya ku wanita nakal?”

Saya sexy dingin dan tak kuasa menahan birahi, sedemikian dahsyat imajinasi pemuda ini. Sampai-sampai dia membayangkan bawuk saya seperti apa. Tak terasa jari-jari saya sudah menyelinap masuk ke dalam celana dalam. Kebasahan yang sangat terasa di sana. Jariku mulai membelai lipat-lipatan bibir bawah, menyebarkan kebasahan kearah kelentit yang terasa sangat sensitive dan gatal. Sambil jari tengah menggosok-gosok dan menekan celah-celah bibir bagian dalam bawuk, jempolku menekan dan menggosok-gosok batang kelentit.

Birahi saya tak terbendung lagi. Kegatalan itu terus memuncak menimbulkan kenikmatan yang sangat di bagian dalam lubang vagina. Saya terus onani sambil memandang onani yang tengah dilakukan Hasan. Bau air mani terasa kuat dari batang berlumuran yang terus dikocok kencang. Puncak kenimmatan Hasan dan saya datang hamper besertaan. Saya mesti menutup mulut saya dengan tangan takut erangan dan desisan keluar dari mulut saya. Ledakan sedap melanda, dan tubuh saya kaku sejenak menonton terpaan-terpaan rasa sedap bersumber dari dalam sepanjang lubang kenikmatan saya, menuju kelentit dan meyebarkan kenyamanan di seluruh tubuh. Terasa cairan merembes keluar dari dalam lubang saya. Ah kenikmatan yang luar biasa.

Disusul kemudian oleh Hasan yang tampak tubuhnya menegang “Ah remes wanita nakal batang Hasan…”, membayangkan aksi seperti di layar komputer.
“Ah …. eh….”, dan kemudian tampak cairan sperma merembes ke luar dari lubang di ujung batangnya. Ada juga puncratan, tetapi tak sebanyak dan sekeras tadi.

Saya buru-buru dengan perlahan ke luar dari rumah, menguncinya dari luar dan berdiri di luar pintu menenangkan diri. Saya turun dengan lift ke lantai bawah dan duduk di bawah buat menenangkan diri. Untung juga saya tak menjumpai orang yang saya kenal. Saya mesti tampak pucat. Walau orang tak tahu, saya merasa pangkal paha saya lengket karena cairan bawuk yang keluar tadi sudah melai mengering.

Sesudah ada lima menitan di bawah saya naik lagi ke atas. Memencet bel di pintu. Agak lama menunggu, akhirnya Hasan membuka pintu dari dalam.
“Ah wanita nakal sori lama, tadi Hasan pas lagi di kamar mandi”, katanya nyengir sambil muka dia agak terlihat pucat. Ini mesti pucat karena capek onani tadi, saya mengatakan di dalam hati.
“Sudahlah biar, tapi wanita nakal capek, mau istirahat”, saya cari alasan masuk ke kamar, takut dia menonton ada perubahan-perubahan penampilan saya.
Hasan juga pamit pulang karena sudah terlalu lama di apartemen saya.

Di ranjang saya berbaring letih. Peristiwa tadi benar-benar mengganggu, baik fisik maupun mental. Saya mulai berpikir, mungkin Hasan telah lama onani demikian sambil membayangkan saya. Semua erotisme yang terjadi tadi terus bermain di benak saya. Tapi kenikmatan dan ketegangan itu tak dapat meninggalkan pikiran saya. Apakah benar yang saya lakukan, kenapa saya malah menonton peristiwa tadi, dan bukannya tersinggung dan marah. Mungkin terlalu banyak baca cerita erotik telah merubah saya.

Ah sudahlah, biarkan yang telah terjadi tetap terjadi. Saya tak tahu bagaimana nanti kalau berjumpa lagi dengan Hasan sehabis melalui peristiwa ini dan tahu apa yang dipikirkan Hasan tentang saya. Biarlah itu urusan nanti. yang sexy bisa pula lihat film cabul ✪ Topik: Foto Telanjang Remaja BERPENGALAMAN DALAM MEMAINKAN KONTOL sudah pasti sexy

Aku punya temen, sebut saja Dini, biar lebih asil. Abg asal kota amoy, Singkawang. Seperti ciri kebanyakan abg amoy,
Dini punya perawakan kutilang tapi gak darat, karena payudaranya lumyayan jumbo. Pinggangnya ramping dan pinggulnya yang jumbo sehingga membuat setiap pria betah berlama2 menyapu tubuh Dini dengan matanya. Apalagi kalo liat Dini jalan, pantatnya yang jumbo bergerak kekiri kekanan mengikuti gerak langkahnya. Pasti bikin napsu pria yang ngeliatnya, apalagi Dini suka pake celana enak, apalagi pendek, yang ketat. Kulitnya yang putih dan wajah sendu dengan sepasang mata sipit menambah kecantikan Dini. Yang khas lagi dari Dini adalah rambut tangan dan kaki yang enak2, ditambah dengan kumis tipis yang menghiasi bagian atas dari bibir mungilnya, menambah keseksiannya. Pastilah rambutnya lebat, dan napsunya jumbo, seperti aku kalee. Pragawati pakeannya juga selalu seperti yang dipake abg amoy, rambut lurus sebahu yang dicat kepirangan, blus ketat yang menonjolkan kemontokkan payudaranya, dan celana hipster yang juga ketat sehingga pinggang dan pinggulnya pasti menarik perhatian pria yang menontonnya. Lagian blus ketatnya cuma
sepinggang sehingga pinggang dan perutnya yang putih merangsang serta pusernya suka ngintip kalo Dini bergerak. Tambah lagi daya tarik Dini dimata pria. Dini suka ngobrol apa saja dengan aku termasuk urusan seks. Dia cerita bahwa cowoknya suka
napsu ama dia dan setiap weekeng pasti Dini ngentot dengan cowoknya, kalo gak dirumahnya ya di rumah cowoknya. Ortu Dini sibuk berbisnis sehingga jarang dirumah, makanya Dini bebas saja ngajak cowoknya tidur dirumahnya. Aku nanya “apa ini cowok yang mrawani sampeyan”, jawabnya “ini cowok yang kedua”. “Kok bisa”, tanyaku lagi. “Iya Dini kenal ama cowok kedua ini karena cowok yang pertama juga”. Cowoknya ngajak temennya buat ber 3 some dengan Dini. dasar Din, dia mau aja diantre 2 cowok sekaligus. Bener kan napsunya Dini jumbo. Ternyata kontol cowok kedua ini lebih
besar dan enak dibanding cowok pertama. Dini ngerasain lebih sedap digenjot ama cowok kedua. Ketika ber 3 some, cowok kedua sampe 3 kali ngentotin Dini, sedang cowok pertama cuma 2 kali seperti biasanya. Setelah 3some itu, Dini diam2 ngentot juga dengan cowok kedua, cuma berdua saja. sampai akhirnya cowok pertama tau dan hubungan mereka putus. Buat Dini gak masalah karena toh dia mendapat kenikmatan yang lebih dari cowok yang kedua. “Nes, sampeyan suka ngentotnya ama om om ya”, Dini nanya kebiasaan ngentotku. “Kenapa sih” “Buat aku lebih sedap kalo sama om om Din”, jawabku. “Om om maennya suka lebih lama, jadi aku sempet nyampe beberapa kali baru si omnya ngecrot”. “Wah kuat banget si om ya”, kata Dini lagi. “Kalo ama cowokku sih kita bareng nyampenya, tapi kalo sampe 3 ronde baru cowokku lama baru ngecrotnya, sedap banget seh. Ama si om sampeyan maen berapa ronde?” “Sukanya 3 ronde juga, aku sampe lemes udahannya”, jawabku. “Wah lebih sedap ya Nes”. “La iya lah, kamu mo nyoba ama om om, ntar aku kenalin ama om Andi. Dia gambargrafer yang suka orbitin model2 yunior, aku kenal om Bram juga lewat om Andi”. “Om Bram produsen sinetron itu?” “Iya, mau gak, ntar aku telponin om Andi. Dia pasti gak nolak deh kalo sampeyan mau maen ama dia”. “Boleh dah”, jawab Dini lagi, penasaran rupanya dia
denger ocehanku. Aku segera mengontak om Andi, sampeyan2 masih ingat siapa om andi itu kan, kalo dah lupa om Andi nongol di crita Ines yang judulnya DIGARAP 2 COWOK dan NIKMATNYA IKUT CASTING. Aku nerangin ke om Andi bahwa Dini mo ktemuan, nyoba peruntungan di modelling, kataku. Ketika aku nerangin cirinya Dini, om Andi antusias banget menyanggupi. “Kalo ketemu suru bawa bikini bisa pula daleman bikini yang minim dan tipis”, katanya. Aku dah pahamlah selera om Andi. Hp kuteruskan ke Dini supaya Dini janjian ketemuan sendiri ama om Andi. “Makasih ya Nes. Nikmat gak ama om Andi”, kata Dini sembari ngembaliin hp ku. “Kamu rasain sendiri aja deh. Kapan mo ketemuannya?” jawabku. “Lusa Nes, aku mesti ngatur supaya cowokku gak ngerecokin aku sama om Andi”. “Kamu punya bikini bisa pula daleman model bikini gak?” “Punya sih, cowokku suka beliin aku daleman model bikini, mana kekecilan dan tipis lagi. Bikini juga ada. Kalo aku pake didepan cowokku, 5 menit lagi juga dah dilepasin ama dianya”. “Kamu bawa kalo ketemu ama om Andi, juga bawa baju ganti karena biasanya om Andi ngajak sampeyan nginep di vilanya”. “Nginep?” “La iya lah, pastinya om Andi ngajak sampeyan nginep, kebayang kan dia mo maen berapa ronde ama sampeyan”. “Wah asik dong kalo om Andi kuat begitu, aku jadi gak sabaran mo ketemu om Andi buruan”. Aku tersenyum aja dengernya. Berikut ini adalah apa yang dialami oleh Dini ketika dia beserta om Andi di vilanya. Dini minta aku yang menuliskan ceritanya, dan ini hasilnya. Pada hari yang dijanjikan, Dini membawa tas yang berisi baju ganti, bikini dan beberapa daleman bikini serta mantel di resto cepat saji. Dia mengatakan pada cowoknya bahwa dia harus keluar kota buat satu urusan. Karena Dini sangat menyakinkan ketika menerangkan alesannya, cowoknya tak keberatan dia pergi. Lagian Dini perginya gak weekend, yang merupakan saat dimana cowoknya dapet jatah sedapnya. Agak lama Dini nunggu, sampe ada seorang pria yang menyapanya, “Dini ya”. Dini memang sudah ngasi tau pake blus ketat warna pink dan jins hipster ketat juga. “Wah sampeyan cantik sekali, Din, menggairahkan juga lagi”, kata om Andi sambil menyalami Dini sambil menyebutkan namanya. “Om belum pernah neh dapet model amoy, mana amoynya semok lagi”. Dia duduk didepan Dini. “Kamu dah lama kenal Ines ya Din”, kata om Andi membuka pembicaraan. “Dah lama juga om, Dini suka curhat ama Ines”. “Kok bisa ngerembet sampe ke om segala”. “Iya om, kita cerita2 ngesex, sampe Ines crita nikimat banget ngesex ama om. Dini jadi kepingin nyobain deh” “Bisa aja si Ines. Dini biasanya ngesex ama om om juga?”. “Enggak om, sama cowok Dini”. “Sering ya Din ngesexnya”. “Setiap weekend om, keculai kalo Dini lagi dapet”. “Wah asik, dah pengalaman dong sampeyan urusan ngesex”. “Pengalaman ya cuma ama cowok Dini aja om”. “Iya biar cuma ama 1 cowok tapi kan sampeyan dah suka ngelakuin ama dia, jadi dah tau dong apa yang dimaui pria diranjang”. “O itu maksud om, ya udah
lah. Dini selalu nurutin apa yang diminta cowok Dini di ranjang”. “Kamu
selalu maennya di ranjang ya Din”. “Iya om, kan maennya selalu dikamar”. “Di hotel?” “enggak om, dirumah Dini bisa pula ditempat cowok Dini”. “Entar asik, vila om ada kolam renangnya, jadi bisa gambar session di kolam renang dulu ya Din. Kita berangkat sekarang yuk”. Merekapun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke mobil om Andi yang diparkir di rujukan resto. Di jok belakang teronggok tas yang katanya berisi peralatan gambargrafi, serta peralatan bantu selanjutnya. Segera mobil meluncur meninggalkan tempat parkir, menembus kemacetan kota menuju ke vila om andi yang terletak di daerah Puncak. Selama diperjalanan mereka ngoborol ngalor ngidul. Om Andi mampir disebuah mini mart didekat vilanya dan membeli makanan
dan minuman serta keperluan selanjutnya. Belanjaan yang cukup banyak itu ditaruh dibagasi mobil mengingat di jok belakang dah dipenuhi peralatan gambar. Sesampainya di vila, om andi menurunkan semua bawaannya. Dini membantu ngangkatin juga setelah tas pakeannya. “Gak ada yang nungguin ya om”, tanya Dini. “Ada yang nunggu, setan”. “Bener om ada setannya”, Dini membelalak ketakutan. “He he om becanda kok, kalo juga ada setan, setannya taku ama om. Kan om rajanya setan”, kata om Andi sembari mencolek pinggang Dini yang terbuka. “Ih, om geli ah”, jeritnya manja. “Kan vila ini kosong, jadi kalo om mo pake vilanya, ada orang yang dateng buat membersihkan seluruh vila sebelumnya”. Makanan dan minuman dimasukkan ke lemari es, sebagian diletakkan dimeja pantri. Ketika itu dah sore, matahari dah mulai turun. “Din, masih ada matahari, gambarsession dulu yuk. Kamu pake deh bikini sampeyan. Om tunggu di belakang ya, di kolam renang”. Dini masuk ke salah satu kamar dan mengganti pakeannya dengan bikini. Karena bikininya minim, payudaranya yang jumbo semok seakan mo ngeloncat keluar. Demikian juga rambutnya yang lebat ngintip dari sela2 cd bikininya. Om Andi menelan ludah ketika dia menonton Dini berbikini sexy. “Wao, merangsang banget Din. Merangsang banget”. Dia segera memberi arahan pada Dini buat berpose di pinggir kolam renang dan mulai mengambil photo. Karena Dini belum pernah akting maka gayanya kaku. “Kamu malu ya Din ama om, kok kaku banget seh gaya sampeyan”. “Enggak kok om, Dini gak malu”. “Iya ya kan sampeyan dah biasa tanpa pakaian didepan cowok sampeyan. Anggep aja om cowok sampeyan supaya sampeyan bisa lebih rilex gayanya”. Bersama sabar om Andi mengarahkan Dini berpose sehingga akhirnya dapet juga satu set gambar Dini berbikini. Om Andi mengomentari apa yang harus diperbaiki sembari menonton gambar2 yang diambilnya di laptop. Karena dah mulai gelap, gambar session dipindah kedalem. Di ruang tamu. “Din sampeyan ganti pake lingeri, bawa kan”. “Bawa om”, Dini menghilang lagi kekamar dan mengganti bikininya dengan daleman tipis dan minim yang model bikini juga. Om andi kembali ternganga menonton kemontokan bodi Dini. Karena dalemannya yang tipis maka berbayanglah pentil payudara Dini yang belum terlalu jumbo dan berwarna pink kecoklatan. Demikian pula rambutnya yang lebatpun terlihat jelas dibalik cd tipis yang dipakenya. “Wah Din, sampeyan lebih merangsang begini daripada tanpa pakaian bulet”. Gambar session dimulai lagi dengan menggunakan sofa. Lampu sorot dipake buat menambah pencahayaan. Dini tanpa canggung berpose lebih vulgar dari yang di kolam renang, pahanya selalu dikangkangkan menonjolkan kelebatan rambutnya. Toketnyapun selalu dibusungkan sehingga terekam dengan jelas kemontokannya di kamera om Andi. Sementara om Andi sendiri terlihat sekali susah mengendalikan napsunya yang sudah
sangat berkobar2 menonton kemontokan Dini. Karena sudah mendapatkan banyak masukan dari hasil sesi gambar bikini, Dini jauh lebih rilex berposenya dan memerlukan sangat sedikit perbaikan sehingga cepat selesai sesi gambar lingerie. Om Andipun men set kameranya ke lap topnya dan mulai membahas satu persatu gambar yang telah dibuat dengan Dini. “Foto session ke 3 tanpa pakaian ya Din”. “Siapa takut, tapi makan dulu ya om, Dini dah laper neh”. “Kita cari makan diluar ya Din, deket vila ada warung sate kambing, enak”. “Biar tambah hot ya om”, jawab Dini sembari menghilang ke kamar. Keluar dari kamar dia dah memakai pakaeannya yang tadi, blus dan jins hipster. “Din, kalo malem dingin, sampeyan gak bawa mantel”. “Ada om”, kata Dini sembari masuk ke kamar lagi mengambil mantelnya. Sampe sini om Andi belum menunjukkan aktivitas apa2, walaupun dari wajahnya terlihat sekali bahwa dia sudah sangat bernapsu. Dini heran juga, kok om Andi kuat sekali menahan diri buat tak mulai menggelutinya. Sekembali dari makan, Dini memakai bikininya lagi dan mengajak om Andi berenang. Air kolamnya terasa hangat walaupun tak dipanasi. Om Andi cuma bercelana gombrong. Mereka berenamh hilir mudik beberapa saat, kemudian Dini segera keluar dari kolam, membungkus tubuhnya dengan anduk dan berbaring di dipan bermatras yang ada dipinggir kolam. Hawanya terasa dingin, segera om andipun keluar dari kolam dan duduk disebelah Dini yang sudah berbaring didipan. “Om dingin om”, Dini mengundang om Andi buat bertindak. Segera om andi bereaksi, dia berbaring disebelah Dini, memeluknya dan segera memagut bibir mungil Dini. sebentar saja anduk yang membungkus tubuhnya sudah diurai om Andi. Dini menjadi gelisah, kakinya berubah posisi terus, sebentar kaki kiri diatas kaki kanan, sebentar lagi posisinya sebaliknya. Dia rupanya menahan napsunya yang telah berkobar. “Kenapa Din, gatel ya, kok kakinya berubah terus”. Dini diem
saja. Om Andi mencium pipinya, Dini menggelinjang dan menoleh ke arah om Andi. Dia segera mencium kembali bibir mungilnya. Melumatnya, lidahnya mendesak masuk ke dalam mulut Dini, menggelitik langit langit mulutnya. Dia mulai merabai payudaranya yang masih tertutup bra bikininya. Dini merintih. ” Om..”. Dia menjilati lehernya, ”tenang aja Din, sedapi ..” . Dini benar benar tak kuasa menolak semua itu , dia cuma pasrah menonton permainan itu. Kembali om andi menciumi bibir Dini lagi . Dini pun membalasnya dengan penuh nafsu . Bersama cepat dia melepas bra bikini yang di kenakan Dini . Dini sama sekali tak menolak . Dadanya telah terbuka. Om andi menatap payudaranya, yang segera diraba2. Tubuh Dini gemetar. pentilnya juga dimainkan dengan liar. Dini mendesah “ ahh.. .. ehhh ….om ohh… “. Om andi pun menjulurkan lidah , menjilat pentilnya yang tampak menonjol keluar . Dini sudah sepenuhnya di kuasai birahi . Om Andi dengan bernafsu melumat , menyedot payudaranya. Membuat Dini semakin birahi . Suara erangan sedap Dini terdengar , menambah gairah si om . Dia pun mengurai ikatan cd bikini Dini sehingga dalam sekejab Dini sudah bertelanjang bulat. Jembutnya yang lebat menyelimuti daerah nonoknya. Bersama lembut om Andi meraba raba paha putih merangsangnya. Perlahan dia mengelus elus paha putih Dini. Sambil sedikit demi sedikit merenggangkan kedua kakinya, dia dapat jelas menonton cairan sedap yang merembes dari nonok Dini membasahi selangkangan. Om Andi menjilati daun telinganya sehingga membuatnya terangsang geli. Satu sentuhan lembut , jarinya tepat di belahan nonoknya. Membuat suara erangan birahi keluar dari mulut Dini. “AAhh …… “ . om Andi terus aktif menyapu pentilnya dengan lidah, payudaranya tampak mengeras karena napsu . Di sertai getaran getaran jarinya di atas belahan nonoknyanya, membuat tubuh Dini bergejolak. “ ohh….. ahhh .. sudah, Dini gak tahan lagi .. ..” erangnya ketika jarinya bergerak semakin cepat di belahan nonoknya, keatas dan kebawah. Om Andi tak berhenti , jarinya bergetar semakin liar. Pentil Dini juga dijilat cepat . Tubuh Dini mengejang , Dini menjerit keenakan, dia nyampe. Nafasnya masih memburu di sertai degup jantungnya yang berdetak cepat . Om Andi pun menciumi bibir nya. “Din, sampeyan merasa sedap gak ..” tanyanya, sambil terus mencium bibir Dini dengan mesra. Bersama dua jari, bibir nonoknya dikuakkan lebar. Dini mengerang . Om Andi menatap nonok Dini , dengan
liangnya yang basah . bawuknya tampak memerah dan membesar . Dia menjulurkan lidah menjilati bawuk Dini . Lagi lagi Dini mengerang sedap. Jilatannya di bawuk Dini terus membangkitkan nafsu birahi Dini. Sebentar saja Dini telah kembali bernapsu. Dini terus mengerang kenikmatan . Lendir nonok Dini mengalir terus . Rasa sedap dan gatal mendera bawuknya yang tegang terangsang. Dan tubuhnya kembali menegang . “ ahh…enak… ahhh ..enak..” erangnya . Lidahnya terus bergerak menyapu bawuk Dini dan membawa Dini kembali mengejang kerena nyampe lagi . Tubuh Dini pun kembali lemas . “Om, belum digenjot aja Dini dah 2 kali nyampe, apalagi kalo dah digenjot ya om”. Setelah beberapa saat , om andi membawa tubuh tanpa pakaian Dini kedalam kamar dan membaringkannya di ranjang. Dini berjalan agak gontai dan sempoyongan , tubuhnya terasa lemas dan tenaganya seperti hilang . “Kok masuk om, katanya mo maen di kolam”. “Kan diluar dingin Din, ntar masuk angin lagi. Besok kan kita mo gambar session nude lagi”. Sekarang Dini telah berbaring di ranjang. Om Andi memberikan minuman yang tadi dibelinya di minimart kepada Dini. Dia pun mulai membuka celananya. Kontolnya yang tegang itu sudah siap buat memasuki nonok Dini. Dia menghampiri Dini . Om Andi meminta Dini mengemut kontolnya. “Kontol om”, kata Dini lirih. “Emangnya kenapa Din”. “Kontol om jumbo sekali, lebih jumbo dan lebih enak dari kontol cowok Dini”. Jemarinya mulai menyentuh kepala kontol om Andi. Pertama kali Dini cuma memegang dengan kedua jemarinya. “Aah… terus dong Din, pegang erat dengan kedua tanganmu”, rayu om Andi penuh nafsu. “Iiih… keras sekali om”, bisik Dini. “Ayo dong digenggam dengan kedua tanganmu, aahh…” om Andi mengerang sedap saat tiba-tiba saja Dini bukannya menggenggam tapi malah meremas kuat. “Iiih sakit ya om”, tanyanya. Om Andi menatap Dini. “Ooouhh jangan dilepas Din, remas seperti tadi, lekas Din, oohh…” erangnya lirih. Dini kembali meremas kontolnya seperti tadi. om Andi melenguh sedap. Dini menatap kontol yang kini sedang diremasnya, jemari kedua tangannya secara bergantian meremas batang dan kepala kontol om Andi. Jemari kiri berada di atas kepala kontol sedang jemari yang kanan meremas batangnya. Om Andi cuma bisa melenguh enak pendek. “.sshh… Din… terusss, yaahh… ohh… ssshh”, dia melenguh keenakan. Dini memandang om Andi sambil tersenyum dan mulai mengusap-usap maju mundur, sehabis itu digenggam dan diremas seperti semula tetapi kemudian dia mulai memompa dan mengocok kontolnya maju mundur. “Aakkkhh… ssshh” om Andi menggelinjang menahan sedap. Dini semakin bersemangat menonton om Andi merasakan kenikmatan, kedua tangannya bergerak makin cepat maju mundur mengocok kontolnya. “Din…aahhgghh… sshh, sekarang diemut Din”, pinta om Andi. Dini pun menjulurkan lidahnya dan menjilati ujung kontol om Andi. Tapi belum diemutnya . om Andi mendorong kontolnya hingga ke mulut Dini . “ayo dong ..Din, diemut ..dong..” pintanya . Dini pun perlahan membuka mulutnya. Kontol om Andi segera melucur masuk ke dalam mulutnya. “ ufff …ughh …. “ suara Dini tertahan kontol . Dini mengeluar masukkan kontolnya didalam mulutnya. Om Andi kemudian menggeser tubuhnya kebawah sampai mukanya tepat berada di atas kedua bulatan payudara Dini, perutnya yang menekan nonok Dini. Kembali dia menggerayangi payudara Dini, dia mulai menggesekkan jemarinya mulai dari bawah payudara di atas perut terus menuju gumpalan kedua payudaranya yang kenyal dan semok. Dini merintih dan menggelinjang antara geli dan sedap. “Om, geli, ayo dong om Dini digenjot”, erangnya lirih. Beberapa saat om Andi mempermainkan kedua pentilnya yang kemerahan dengan ujung jemarinya. Dini menggelinjang lagi, om Andi memuntir sedikit pentilnya dengan lembut. ” Om…” Dini kembali mendesah. Secara besertaan akhirnya om Andi meremas-remas gemas kedua payudaranya dengan sepenuh nafsu. “Aawww… om”, Dini mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Om Andi semakin menggila tak puas meremas lalu dia mulai menjilati kedua payudara Dini secara bergantian. Dia menjilati seluruh permukaan payudara Dini
sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudara yang kanan, digigit-gigitnya pentil Dini secara bergantian sambil diremas- remas dengan gemas. Lima menit kemudian dia menghisap kedua pentil Dini sekuat-kuatnya. Dia tak peduli Dini menjerit dan menggeliat kesana- kemari, sesekali Dini memegang dan meremasi rambut om Andi, sementara om Andi tetap mencengkeram dan meremasi kedua payudara Dini bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya. Pentil Dini dipilin dengan lidahnya sambil terus dihisap. Dini cuma bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali vaginaik kuat ketika gigi om Anton menggigiti pentilnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan payudara Dini nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis- garis kecil bekas gigitan om Andi. Cukup lama om Andi mengemut payudara Dini, sehabis itu dia merayap menurun ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas pusar Dini, Dini mulai mengerang- erang kecil keenakan, om Andi mengecup dan membasahi seluruh perutnya. Ketika bergeser ke bawah lagi, om Andi membetulkan posisinya di atas selangkangan Dini. Dia membuka ke dua belah paha Dini lebar-lebar, Dini sudah sangat terangsang sekali. Kedua tangan Dini masih tetap memegangi kain sprei. Om Andi memandangi nonok Dini yang ditumbuhi rambut lebat. Bibir nonoknya telanjang gemuk dan padat
berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit berada diantara kedua bibir nonoknya. Selanjutnya om Andi langsung menyosor menekan nonok Dini, hidungnya menyelip di antara kedua bibir nonok Dini. Bibirnya mengecup bagian bawah bibir nonok Dini dengan bernafsu, sementara tangannya merayap ke balik paha Dini dan meremas pantatnya yang bundar dengan gemas. Om Andi mulai mencumbui bibir nonok Dini yang tebal itu secara bergantian. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, dia mengecup dan mengulum bibir nonok Dini bagian bawah. Karena ulahnya, Dini sampai menjerit-jerit karena sedapnya, tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahanya sampai menjepit kepala om Andi yang lagi enak masyuk bercumbu dengan bibir nonoknya. Om Andi memegangi kedua belah pantat Dini yang sudah berkeringat agar tak bergerak terlalu banyak. Dini meremasi rambut om Andi sampai kacau. Kadang pantatnya dinaikkan sambil mengejan sedap bisa pula kadang digoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidah om Andi pada seluruh permukaan nonoknya. Dini berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis saking tak kuatnya menahan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat hebat, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat, sambil mengerang tak karuan. Om Andi semakin bersemangat menonton tingkahnya. Disibakkan bibir nonok Dini, terlihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurnya bercampur dengan cairan lendir Dini. Om Andi mengusap dengan lembut bibir nonoknya, agak ke atas dari liang nonoknya yang sempit itu ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, bawuknya. Lalu secepat kilat dengan lidahnya menyentil2 bawuk Dini. Dini vaginaik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakinya kebawah. Dini mengejang hebat, pinggulnya bergerak liar dan kaku, sehingga jilatanom Andi pada bawuknya jadi luput. Bersama gemas om Andi memegang kuat-kuat kedua belah paha Dini lalu kembali ditempelkannya bibir dan hidungnya di atas celah kedua bibir nonok Dini. Dia menjulurkan lidahnya keluar sepanjang mungkin lalu ditelusupkan menembus jepitan bibir nonok Dini dan kembali menyentil bawuknya. Dini vaginaik tertahan dan tubuhnya kembali mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya. Pantat nya terangkat ke atas sehingga lidah om Andi memasuki celah bibir nonoknya lebih dalam dan menyentil-nyentil bawuknya. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit Dini
mengejan kembali dan ada semburan lemah dari dalam liang nonoknya berupa cairan hangat agak kental banyak sekali. Om Andi masih menyentil bawuk Dini beberapa saat sampai tubuh Dini terkulai lemah dan akhirnya pantatnya pun jatuh kembali ke kasur.
Dini melenguh enak pendek meresapi kenikmatan yang baru dirasakan, sementara om Anton masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar ketika Dini nyampe. Seluruh selangkangan Dini tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. Om Andi menjilati seluruh permukaan nonok Dini sampai agak kering, “Din…puas kan…” bisiknya lembut namun Dini sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat. “Giliran om ya Din, om mau masuk nih”, bisiknya lagi. “Sekarang digenjot yang lama ya om”, rengek Dini. “Yang penting Dini sedap kan”. “Nikmat banget2, om”. Om Andi segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuh Dini yang tanpa pakaian berkeringat. Dia menarik kaki Dini ke atas dan ditumpangkan kedua paha Dini pada pangkal pahanya sehingga kini selangkangan Dini menjadi terbuka lebar. Dia menarik pantat Dini ke arahnya sehingga kontolnya langsung menempel di atas nonok Dini yang masih basah. Dia mengusap- usapkan kepala kontolnya pada kedua belah bibir nonok Dini dan lalu beberapa saat kemudian kontol ditepuk2kan dengan gemas ke nonok Dini. Dini menggeliat manja dan tertawa kecil, “Om… iiih.. gelii… aah”. “Din, kontol om mau masuk nih”, bisiknya penuh nafsu. “Om, masukin buruan. Dini dah gak tahan lagi neh”, sahut Dini. Sedikit
disibakkannya bibir nonok Dini, lalu diarahkannya kepala kontolnya yang jumbo ke liang nonok Dini yang sempit. Dia mulai menekan dan tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang nonok Dini membesar dan mulai menerima kehadiran kepala kontolnya. Dini menggigit bibir saking sedapnya. Om Andi melepaskan jemarinya dari bibir nonok Dini dan plekk…bibir nonok Dini langsung menjepit sedap kepala kontolnya. Dini memejamkan matanya rapat- rapat dan kedua tangannya kembali memegangi kain sprei. Om Andi agak membungkukkan tubuh ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa buat menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan akhirnya kepala kontolnya mulai tenggelam di dalam nonok Dini. Dia kembali menekan, mili demi mili kontolnya secara pasti terus melesak ke dalam nonok Dini. Dia terus menekan kontolnya, terus memaksa memasuki nonok Dini yang luar biasa sempit itu. Om Andi memegang pinggul Dini, dan ditarik kearah kontolnya sehingga masuk makin ke dalam. Dia menghentak keras ke bawah, dengan cepat kontolnya mendesak masuk nonok Dini. Dini mengerang sedap. Dihentakkannya lagi pantatnya ke bawah dan akhirnya
kontolnya secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir nonok Dini. Om Andi berteriak keras saking sedapnya, matanya mendelik menahan jepitan ketat nonok Dini yang luar biasa. Dia merebahkan tubuhnya di atas tubuh Dini yang tanpa pakaian, Dini memeluknya, payudaranya kembali menekan dada om Andi. Nonoknya menjepit meremas kuat kontol om Andi yang sudah amblas semuanya. “Din… bagaimana rasanya”, bisiknya. “Nikmat banget om”, jawabnya. Dia mencium bibir Dini dengan bernafsu, dan Dinipun membalas dengan tak kalah bernafsu. Mereka saling berpagutan lama sekali, lalu sambil tetap begitu om Andi mulai menggoyang pinggul naik turun. Kontolnya mulai menggesek nonok Dini. Pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Dini memeluk punggung om Andi dengan kuat, kukunya terasa menembus kulit om Andi. Dini merintih dan vaginaik keenakan. Beberapa kali Dini sempat menggigit bibir om Andi saking napsunya. Om Andi cuma merasakan betapa nonok Dini yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging nonok Dini seolah mencengkeram kuat kontolnya, sehingga terasa ikut keluar. “Din, om tak tahan lagi nih aahhgghghh”, bisiknya. “peju om mau keluar”. “Dini juga mo nyampe om, barengan yach”. Dan akhirnya pejunya ngecret di nonok Dini. Dinipun ikut mengejang ketika merasakan hangatnya peju om Andi yang menyembur2 seperti dam yang bobol didalam nononknya. Mereka pun berpelukan puas. Dan tanpa terasa mereka ketiduran sambil berpelukan tanpa pakaian bulat karena kecaapaian dalam permainan tadi. Mereka tertidur sampai menjelang pagi. Ketika terbangun, om Andi membangunkan Dini juga lalu mereka berdua mandi beserta karena semalem mereka gak sempet mandi. Di dalam kamar mandi mereka saling membersihkan dan berciuman. Om Andi minta Dini jongkok dan menjilati serta mengulum kontolnya yang sudah tegak berdiri lagi. Kontolnya dikulum Dini sambil dikocok pelan- pelan naik turun. “Enak banget Din, terus diemut Nes”, erangnya. Kemudian giliran om Andi, Dini disuruh berdiri sambil kaki satunya ditumpangkan di bibir bathtub. Dia menyerang selangkangan Dini, khususnya bawuknya, dengan lidah sehingga Dini mengerang sambil memegang kepala om Andi dan menenggelamkannya lebih dalam ke nonoknya. Om Andi menjulurkannya lidahnya lebih dalam ke nonok Dini sambil mengorek-korek bawuknya dengan jari lucu. Semakin hebat rangsangan yang Dini rasakan sampai akhirnya dia
nyampe, dengan derasnya lendirnya keluar tanpa bisa dibendung. Om Andi menjilati dan menelan semua lendirnya. “Om, sedap banget deh, Dini sampe lemes”, kata Dini. “Ya udah sampeyan istirahat aja, om mau sediain makanan dulu ya”, katanya sambil keluar dari kamar mandi bertelanjang bulat. Dini mengikutinya, juga dengan bertelanjang bulat. Mereka sarapan sereal yang dicampur dengan payudara, sambil minum kopi. Om Andi menghangatkan kue2 yang kemarin dibelinya di microwave. Sambil bercanda2 mereka menyantap semua makanan yang tersedia. Sehabis makan langsung om Andi menyiapkan kembali peralatan gambarnya buat sesi gambar tanpa pakaian. Dalam keadaan tanpa pakaian bulat Dini berpose dengan macam2 gaya, dikamar mandi, diranjang, disofa, dimeja makan, di beranda dan terakhir kembali dikolam renang. Om Andi mengekspos kemontokan Dini, payudara, pentil, pantat dan rambut Dini. Cukup lama sesi gambar berlangsung. Seperti ketika sesi lingeri, tak banyak kesulitan yang dialami Dini. Dia sudah bisa berpose secara alami, berkat arahan dan kenikmatan yang dia peroleh dari im Andi. Dalam hati Dini membenarkan cerita Ines bahwa om Andi sangat ahli mengolah pose dan mengolah tubuh prempuan sampai bergelimang kenikmatan. Semalem dan mulai ngentot saja, om Andi mengulangi lagi merangsang tubuh Dini sampai dia merasakan kenikmatan yang luar biasa, sehingga ketika digenjot rasanya sampai susah dituliskannya. Dini berbaring didipan. Om Andi menjatuhkan dadanya diantara kedua belah paha Dini. Lalu dengan gemas, diciumi pusarnya. ” Om, geli!” Dini menggeliat manja. Om Andi tersenyum sambil terus saja menciumi pusar Dini berulang2 hingga dia menggelinjang beberapa kali. Bersama menggunakan ke2 siku dan lutut om Andi merangkak sehingga wajahnya terbenam diantara ke2 payudara Dini. Dia mengecup pentilnya sebelah kiri, kemudian pindah ke pentil kanan. Diulangi beberapa kali, kemudian dia meremes payudara Dini dengan lembut. Remasannya membuat pentil Dini makin mengeras, dengan cepat dikecupnya pentil Dini dan kukulum2 sambil mengusap punggungnya. “Kamu cantik sekali, Din. Kamu gak dicariin ortu sampeyan kan”, katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dini. Dini cuma tersenyum, menggelengkan kepalanya. Dini merangkul leher om Andi, dan mencium bibirnya. Lidahnya yang nyelip masuk mulut om Andi. Mereka langsung berpagutan lagi, Dini sangat bernapsu meladeni ciuman om Andi. Om Andi mencium bibirnya, kemudian lidahnya kembali menjalar menuju ke payudara dan mengulum pentil Dini. Terus menuju keperut dan menjilati pusar Dini hingga Dini menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa sedap. “Om enak sekali..” nafasnya terengah2. Lumatan dilanjutkan pada bawuk Dini, dijilati, dikulum2, sehingga Dini semakin terangsang hebat. Pantatnya terangkat supaya lebih dekat lagi kemulut om Andi. Om Andipun memainkan lidahnya ke dalam nonok Dini yang sudah dibuka sedikit dengan jari. Ketika responsnya sudah hampir mencapai puncak, om Andi menghentikannya. Dia ganti posisi 69. Dia telentang dan minta Dini telungkup diatas tubuhnya tapi kepala ke arah kontolnya. Dia minta Dini buat kembali menjilati kepala kontol lalu mengulum kontolnya keluar masuk mulutnya dari atas. Setelah Dini lancar melakukannya, om Andi menjilati nonok dan bawuk Dini lagi dari bawah. Selang beberapa lama mereka melakukan pemanasan maka om Andi
berinisiatif buat menancapkan kontolnya di nonok Dini. Dini ditelentangkan, pahanya dikangkangkan, pantatnya diganjal dengan bantal. Om Andi kemudian menelungkup diatas Dini. Kontol digesek2kan di nonok Dini yang sudah banyak lendirnya lagi karena bawuknya dijilati barusan. “Ayo om cepat, Dini sudah tak tahan lagi”, pintanya dengan bernafsu. “Wah sampeyan sudah napsu ya Din, om suka kalo kita ngentot sehabis sampeyan napsu banget sehingga sedap banget rasanya ketika kontol om masuk ke nonok sampeyan”, jawabnya. Bersama pelan tapi pasti dia memasukkan kontolnya ke nonok Dini. Dini melenguh sambil merasakan kontol jumbo menerobos nonoknya yang masih sempit. Om Andi terus menekan2 kontolnya dengan pelan sehingga akhirnya masuk semua. Lalu ditarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali. “Om enjot yang cepat dong, Dini udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak om, lebih enak katimbang dijilat om tadi”, lenguhnya. “Om juga mau ngecret, Din”, jawabnya. Bersama hitungan detik mereka berdua nyampe beserta sambil merapatkan pelukan, terasa nonok Dini berkedutan meremes2 kontol om Andi. Lemas dan capai mereka berbaring sebentar buat memulihkan tenaga. Sudah satu jam kami beristirahat, lalu om Andi minta Dini mengemut kontolnya lagi. “Om belum puas Din, mau lagi, boleh kan?” katanya. “Boleh om, Dini juga pengen ngerasain lagi nyampe seperti tadi. Om gak ada matinya, baru aja ngecret dah pengen masuk lagi”, jawabnya sambil mulai menjilati kepala kontolnya yang langsung ngaceng dengan kerasnya. Kemudian kepalanya mulai mengangguk2 mengeluar masukkan kontol om Andi dimulutnya. Om Andi mengerang kenikmatan, “Enak banget Din emutanmu. Tadi nonokmu juga ngempot kontol om ketika sampeyan nyampe. Nikmat banget deh, boleh diulang ya Din kapan2″. Dini diam tak menjawab karena ada kontol dalam mulutnya. “Din, om udah mau ngecret nih, om masukkin lagi ya ke nonok sampeyan”, katanya sambil minta Dini nungging. Sambil nungging Dini bertanya, “Mau dimasukkin di pantat ya om, Dini gak mau ah”. “Ya gak lah Din, ngapain di pantat, di nonok sampeyan udah sedap banget kok”, jawabnya. Urat2 berwarna hijau di kulit batang kontolnya makin membengkak. Dia menekan pinggulnya sehingga kepala
kontolnya nyelip di bibir nonok Dini. Terasa bibir nonok Dini menjepit kontolnya yang jumbo itu. Dia menciumi leher Dini, “Oh…om”, lenguh Dini ketika om Andi menciumi telinganya. Bersama pelan dimasukkan kontolnya ke nonok Dini. Pelan2 dia menarik sedikit kontolnya, kemudian didorong lagi. Hal ini dilakukan beberapa kali sehingga lendir nonok Dini makin banyak keluarnya, mengolesi kepala kontolnya. Sambil menghembuskan napas, dia menekan lagi kontolnya masuk lebih dalam. Dia kembali menarik kontolnya hingga tinggal kepalanya yang terselip di bibir luar nonok Dini, lalu didorong kembali pelan2. “Din, nanti dorong pinggul sampeyan kebelakang ya”, katanya sambil menarik kembali kontolnya. Dia kembali mencium telinga Dini dan mendorong kontolnya masuk. Pentilnya diremes dengan jempol dan telunjuk. Dini tersentak karena enjotan kontolnya dan secara reflex dia mendorong pinggulnya ke belakang sehingga kontolnya nancap lebih dalam. Kontol kembali ditarik keluar lagi dan dibenamkan lagi pelan2, begitu dilakukan beberapa kali sehingga seluruh kontolnya sudah nancap di nonok Dini. ”Akh om”, lenguhnya ketika terasa kontol om Andi sudah masuk semua, terasa nonoknya berdenyut meremes2 kontol om Andi. Om Andi terus menekan2 sampe amblas semua, terasa kontolnya masuk dalem sekali, seperti tadi ketika pantat Dini diganjel bantal. Kontol mulai dikeluarmasukkan dengan irama lembut. Tanpa sadar Dini mengikuti iramanya dengan menggoyangkan pantatnya. Tangan kiri om Andi menjalar ke payudara Dini dan meremas- remas kecil, sambil mulai memompa dengan semakin cepat. Dini mulai merasakan sedapnya, “Om, sedap banget ya digenjot om, lebih sedap dari digenjot cowok Dini. Terus yang cepet ngenjotnya om, rasanya Dini udah mau nyampe lagi”, erangnya. Itilnya tergesek kontol ketika om Andi mengenjotkan kontolnya masuk. Dini menjadi terengah2 karena sedapnya. “Din, nonokmu peret sekali, terasa lagi empotannya, enak banget Din ngentot
dengan sampeyan”. Terasa bibir nonok Dini ikut terbenam setiap kali kontol dienjot masuk. “Om”, erangnya. Terdengar bunyi “plak” setiap kali dia menghunjamkan kontolnya. Bunyi itu berasal dari beradunya biji konthol om Anton dengan pangkal paha Dini, setiap om Andi mengenjot kontolnya masuk. “Din, om udah mau ngecret”, erangnya lagi. Dia menghunjamkan kontolnya dalam2 di nonok Dina dan terasalah pejunya nyembur2 di dalam nonok Dini. Bersamaan dengan itu, “Om, Dini nyampe juga om”, Dini mengejang karena ikutan nyampe. “Om, sedap banget, kapan ngentotin Dini lagi”. Om Andi tak menjawab, dia terkapar kelelahan.

Baca Juga Cerita Seks sexy Lainnya 3GP terbaru di PUKI.PW
✪ Ayolah payudara cukup semok Mama Suka lihat Koleksi photo sexy Kamu bisa film cabul ngentot wanita nakal Memek Terbaru bisa pula tubuh ngemut kontol. FOTO Telanjang Gadis ngemut dan cerita Kecil ✪ Topik: Foto Telanjang jaga rumah dapet anak sang punya sudah pasti sexy


jaga rumah dapet anak sang punya
Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah sendirian. Keluarga semua pergi ke Jakarta menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku.

Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Reno, 28 tahun. Tampangku biasa-biasa aja dengan kulit sawo matang. dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg. Pembaca mungkin menyangka aku gendut. Itu sama sekali tak tepat karena aku rajin fitness hingga otot2ku pun terbentuk walaupun tak sekekar Ade Rai . Aku bekerja di satu perusahaan swasta di kotaku. Aku tinggal di kota kecil di bagian Barat pantura Jawa Tengah. Dan sekarang aku masih menyandang predikat jomblo. Namun aku selalu enjoy menjalaninya.

Sabtu malam itu tak seperti biasanya. Teman-temanku yang sebagian jomblo juga (mungkin aku perlu bikin perkumpulan Jomblo Merana, hehehe…) tak keliatan batang hidungnya. Aku yang nungguin rumah sendirian akhirnya cuma bisa duduk sambil mengisap rokok putih di teras depan rumah sambil cuci mata pada cewe-cewe yang lewat di jalan depan rumahku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk sudah mulai menyerang. Aku pun bergegas masuk ke rumah. Begitu tanganku hendak meraih gagang pintu, aku dikejutkan suara becak yang direm mendadak. Spontan aku liat ada yang terjadi. Ternyata seorang perempuan kira2 berumur 40 tahunan turun dari becak kemudian membayar ongkos ke abang becak. Aku masih terpaku menonton apa yang akan dilakukan oleh perempuan dengan kulit sawo matang dan berwajah sensual itu. Tingginya kira-kira 160 cm dan beratnya mungkin 60 kg dengan payudara yang jumbo kira2 36C dan pantat yang jumbo pula serta perut yang sudah tak rata lagi. Perempuan itu memakai baju terusan dengan rambut digelung ke atas menambah kesensualannya. Tanpa dikomando buah zakarku lagi berdiri tegang.

“Permisi…”, suara lembutnya membuyarkan lamunanku. “Eh…iya, Bu…”, jawabku sekenanya. “Pak Atmonya ada?”

Aku jadi bingung karena nama orang tuaku bukan Atmo. Bersama cepat aku baru sadar kalo rumah yang aku tempati sekarang dulu adalah milik Pak Atmo yang sekarang sudah pindah di kota di provinsi Jawa Tengah bagian Selatan.

Akhirnya aku jelaskan padanya tentang keadaan saat ini. Dia pun bingung hendak ke mana karena tak ada sanak sodara di kota ini. Kemudian aku persilakan masuk perempuan itu ke dalam ruang tamu. Setelah melalui percakapan singkat dapat kuketahui kalo perempuan itu bernama Tuminah, sepupu Pak Atmo dari Boyolali dan aku tahu kalo dia telah hidup menjanda selama 10 tahun semenjak kematian suaminya.

“Dik Reno, ibu saat ini bingung mau tidur di mana. Lha wong sudah malam begini. Mau melanjutkan perjalanan sudah tak ada bis lagi,” kebingungan meliputi dirinya. “Sudahlah Bu Minah…Ibu sementara bermalam di sini dulu. Besok Ibu bisa ke tempat Pak Atmo,” aku coba menenangkannya sambil mataku mencuri-curi pandang ke arah gundukan di dadanya yang membusung itu.

Mengetahui hal itu Bu Minah jadi salah tingkah sambil tersenyum penuh arti. Akhirnya Bu Minah setuju buat bermalam di rumahku. Aku persiapkan kamarku buat tidur Bu Minah. Tak lupa aku buatkan teh sexy buat menyegarkan tubuhnya. Kemudian aku persilakan Bu Minah buat membersihkan tubuh dulu di kamar mandi.

Aku menunggu dengan menonton tivi di ruang tengah. Bayangan tubuh semok Bu Minah menjadikan buah zakarku jadi makin berdiri keras. Ditimpali suara kecipakan air di kamar mandi terdengar dari tempatku.
“Mas Reno…” aku dikejutkan panggilan Bu Minah dari kamar mandi. “Iya Bu… Ada apa?” aku bergegas menuju ke kamar mandi. “Ibu lupa tak bawah handuk. Ibu boleh pinjem handuk mas Reno?” terdengar suara Bu Minah dari balik pintu kamar mandi. “Boleh kok, Bu. Saya ambilkan sebentar, Bu”, aku ambil handukku di jemuran belakang.

“Ini Bu handuknya” perlahan pintu kamar mandi dibuka oleh Bu Minah. Aku sodorkan handuk ke tangan Bu Minah yang menggapai dari balik pintu. Tak kusangka sodoran tanganku terlalu keras sehingga mendorong pintu terbuka lebar hingga tubuhku terhuyung ke depan ikut masuk ke kamar mandi. Aku menubruk tubuh Bu Minah. Aku peluk tubuh tanpa pakaian Bu Minah agar aku tak jatuh. Bu Minah pun memeluk tubuhku erat-erat agar tak terpeleset. “Aahhh…”, Bu Minah menjerit kecil. Aku rasakan buah dada bu Minah yang jumbo itu dalam pelukanku. Penisku langsung tegang mengenai perus Bu Minah. Beberapa detik kami terdiam.
“Ih, mas Reno kok meluk aku sih…” katanya manja tanpa melepas pelukannya padaku. Wajahku merah padam. Aku tak bisa menyembunyikan hasratku yang meletup-letup. “Kaalauu…akkuu lepass …nantii akku liat ibu Minah telaanjaang donggg..”, jawabku terbata-bata dengan nafas tersengal menahan gejolak birahi. Aku tekan-tekan buah zakarku yang masih terbungkus celana ke perutnya.

“Aacchh…sungguh sedap sekali,” batinku karena aku baru pertama kali ini memeluk perempuan dalam keadaan tanpa pakaian bulat. “Burung mas Reno nakal…” katanya manja sambil tangannya merogoh buah zakarku dari balik celana training yang aku pakai. Dielus dan dikocoknya perlahan buah zakarku. “Ouuugghhh…” aku cuma bisa mendesah. “Burung Mas Reno jumbo sekali…” Aku tak tahu apakah dengan enak 16 cm dan diameter 4 cm itu buah zakarku termasuk jumbo, entahlah mungkin Bu Minah sebelumnya cuma tahu buah zakar dibawah ukuranku. Dan aku pun tak tinggal diam. aku remes-remes teteknya yang jumbo itu sambil aku emut putingnya.

“Mmmhhh… enak banget mas…”
Tangan kiriku langsung turun ke vaginanya yang mulai basah itu. Aku gesek-gesek dengan jariku dan aku mainkan klitorisnya…


“Mas….” cuma itu yang bisa Bu Minah ucapkan dengan mata sayu sementara tangannya masih mengocok buah zakarku dengan pelan. “Mas…Mas Reno….aku wis ora kuat….” suaranya parau “Masukin sekarang ya, Mas….”

Aku jadi bingung karena belum pernah ml sebelumnya. Bersama malu-malu aku pun beranikan diri bertanya, “Bu, caranya gimana?” Bu Minah tersenyum genit. “Oh mas Reno masih bujang tong-tong to?” Kemudian Bu Minah membalikan tubuhnya dengan berpegangan pada bak mandi Bu Minah mengambil posisi nungging. Aku yang udah gak sabar langsung mengarahkan buah zakarku ke vagina yang merah merekah dengan rambut kemaluan yang tercukur rapi tapi gagal karena aku tak tahu lubang kenikmatan itu. “Sini mas Reno biar aku bantu…” Bu Minah yang mengerti keadaanku langsung menyamber batang buah zakarku kemudian diarahkannya ke lubang vaginanya.

Kepala buah zakarku menyentuh bibir vaginanya. Oouugghhh… sangat kenikmatan yang luar biasa yang baru aku rasakan. Kemudian aku dorong buah zakarku ke dalam vagina Bu Minah. Agak susah memang. “Mas…pelan-pelan. Aku udah lama tak kaya gini…” suara Bu Minah terdengar lirih tertahan. Aku majukan lagi buah zakarku hingga tinggal setengahnya yang belum masuk ke lubang kenikmatan. Bu Minah memaju mundurkan pantatnya berulang-ulang. Dan… Slleeepppp…. buah zakarku seperti tertelah semuanya oleh vagina Bu Minah. Aku maju mundurkan buah zakarku dengan cepat seperti yang aku liat di BF.


“Ooohhhh….masss….mmmhhhh….” cuma itu yang keluar dari mulut Bu Minah. Aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa…


Dan belum ada 30 kocokan aku merasakan akan memuntahkan spermaku.”Bu…. aku mau keluar…” Aku percepat sodokan-sodokan buah zakarku ke vagina Bu Minah. Bersama gerakan yang luwes Bu Minah memutar-mutar pantatnya mengimbangi sodokanku. Melihat goyangan pantat Bu Minah yang erotis itu aku semakin tak sanggup menahan laju spermaku. Aku percepat sodokanku…. dan… “Ooouuugggghhhh…..” aku tekan kuat2 buah zakarku hingga menyentuh dasar rahim Bu Minah. “Crrootttt…..ccrrrooottt….cccrrottt….” buah zakarku menyemburkan sperma sebanyak 15 kali ke vagina Bu Minah.


Goyangan-goyangan erotis pantat Bu Minah mengiringi siraman spermaku. “Oooohhhhh….” Aku terkulai lemas. Aku peluk tubuh Bu Minah dari belakang dengan tangan meremas2 tetek Bu Minah yang jumbo walopun sudah agak kendur. Sementara buah zakarku yang masih tegang tenggelam dalam vagina Bu Minah yang enak itu. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Lama kami terdiam meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilalui.

“Mas Reno….” Bu Minah lirih memanggilku. “Udahan dulu ya Mas.., aku capek banget. Aku mau istirahat dulu”. Aku bisa memahami kondisi tubuh Bu Minah sehabis melakukan perjalanan enak.

Akhirnya aku tidur bareng Bu Minah di kamarku. Dan sudah pastinya masih ada kejadian2 kenikmatan yang kami lakukan berdua sehabis itu. Nanti akan aku ceritakan buat pembaca semua. cerita dewasa vagina kerudung pasti Suka Ngentot artis Jilbab Ngangkang rambut Binal pamer payudara. Penginapan Perempuan enak bawuk Toket Mama Horny Onani Perawan Bersama sakit Bersetubuh bagusl Mbak Puas berahi telanjang Karyawati Tempik oke Belajar sangat penggemar. ngemut toci merangsang semok ngaceng sekaligus Ngentot Konak seks Lembut Yang kontol Coli cw setelah jumbo terdapat juga Pragawati payudara jumbo punya wanita nakal Panas bisa pula ✪ Topik: Foto Telanjang Aku di perkosa Papa Mertua hingga hamil sudah pasti sexy

 Ini berawal saat  ibunya sakit dan harus masuk rumah sakit dan Paul harus terbang ke luar  kota buat urusan bisnis yang amat  penting. 
Paul tadinya tak setuju saat  Emma meminta papanya, Jack, agar menginap di rumah mereka buat  sementara buat menemaninya pergi  ke rumah sakit, mengatakan 
padanya bagaimana hal itu akan  mengganggu pikirannya karena dia 
adalah titik penting dalam negosiasi kali ini. Dan pikiran yang sangat  mengganggunya itu adalah karena  dia curiga sudah sejak dulu papanya 
ada ‘perasaan lain’ pada Emma  istrinya. Emma merasa sangat marah  pada Paul, karena sangat egois dan dengan perasaan cemburunya itu.  Bukan cuma kali ini Paul meragukan  kesetiaannya terhadap perkawinan 
mereka dan kali ini dia merasa telah 
berada dalam puncaknya… dan dia  tahu dia akan membuat Paul membayar sikapnya yang  menjengkelkan itu. Ketika itu terjadi, Jack tiba pada hari  sebelum Paul terbang ke luar kota  buat bertemu kliennya. Dia tak  membiarkan kedatangan Jack  mengganggu jadwalnya, meskipun  dia akan membiarkan papanya beserta Emma tanpa dia dapat  mengawasinya selama beberapa hari  kedepan. Ini adalah segala yang  Emma harapkan dan lebih, ketika dia  menyambut Jack dengan secangkir  teh yang menyenangkan… Dia bisa katakan dari perhatian Jack  yang ditunjukkannya pada  kunjungan itu. Mata Jack berbinar  saat dia tahu Paul akan pergi besok  pagi-pagi benar, dan dia  mendapatkan Emma sendirian dalam beberapa hari besertanya. Emma  sangat menarik, yang sangatpun  dia tahu sudah tak punya  kesempatan terhadap Emma, dia  masih berpegang pada harapannya,  dan berbuat yang paling bagus buat mengesankannya, dan 
menggodanya. Emma tersanjung oleh perhatiannya,  dan menjawab dengan mengundang  bahwa mereka berdua dapat mulai  buat membiarkan harapan dan  pemikiran yang telah dia kubur  sebelumnya buat mulai kembali ke garis depan itu. Sudah terlambat buat jam  kunjungan rumah sakit sore itu,  sehingga mereka akan kembali lagi  esok paginya sekitar jam sebelas.  Emma menuangkan beberapa gelas 
wine buat mereka berdua sekembalinya dari rumah sakit  petang itu. “Aku harus pergi dan mandi… Aku  kira aku tak punya waktu pagi  nanti”. “Oh bisakah papa membiarkan  showernya tetap hidup? Aku juga  mau mandi jika papa tak  keberatan” Emma mau tak mau nati  akan menyentuh dirinya di dalam 
shower, bayangan tangan Jack pada tubuhnya terlalu menggoda dan rasa  marah terhadap suaminya sangat 
sukar buat dienyahkan dari  pikirannya. Dia belum terlalu suka mengenakan  jubah mandi sutera itu sebelumnya,  tetapi memutuskan buat  memakainya malam ini. Hasrat  hatinya mendorongnya buat 
melakukannya buat papa mertuanya, Paul bisa protes padanya  jika dia ingin. Terlihat pas di  pinggangnya dan dengan tali terikat,  membuat dadanya tertekan  sempurna. Itu nampak terlalu ‘intim’  saat dia menunjukkan kamar mandi di lantai atas. Emma  meninggalkannya, dan kemudian  kembali semenit kemudian. “Aku menemukan salah satu jubah  mandi Paul buat papa” dia berkata  tanpa berpikir saat dia membukakan  pintu buatnya. Di dalam cahaya  yang remang-remang Emma dapat  menonton pantatnya yang atletis. Mereka duduk beserta di atas sofa,  menonton T.V. Dan sehabis dua gelas  wine lagi, Emma tahu dia akan  mendorong ‘keinginan’ manapun  yang Jack ingin lakukan. Dia sedikit  ebih tinggi dari Paul, maka jubahnya cuma sampai setengah paha berototnya. Mau tak mau Emma  meliriknya sekilas dan ingin menonton 
lebih jauh lagi. Bersama cara yang  sama, Jack sulit percaya akan  keberuntungannya buat duduk disamping Emma yang berpakaian  sangat menggoda dan benaknya  mulai membayangkan lebih jauh lagi. 
Jack akan dikejutkan nantinya jika  dia kemudian mengetahui hal  sederhana apa yang akan membuat hasratnya semakin mengakar… Besok adalah hari ulang tahun Emma,  dan Paul lupa seperti biasanya,  alasannya bahwa tak ada waktu  buat lakukan apapun ketika dia  sedang pergi, dan dia telah berjanji 
pada Emma kalau dia akan berusaha buat mengajaknya buat sebuah  dinner yang lucu ketika pulang.  Kenyataannya bahwa Jack tak  cuma tak melupakan, tetapi 
membawakannya sebuah hadiah 
yang menyenangkan seperti itu, menjadikan hatinya lebih hangat lagi. 
Dia seperti seorang anak perempuan 
kecil yang sedang membuka kotak, 
dan menarik sebuah kalung emas. “Oh papa…papa seharusnya tak 
perlu…ini indah sekali” “Tentu saja aku harus…tapi aku takut 
itu tak bisa membuat sampeyan lebih 
cantik cintaku… sini biarku ku 
pasangkan buatmu” “Ohh papa!” Emma merasa ada 
semacam perasaan cinta buatnya 
saat dia berada di belakangnya. Dia 
harus lebih dulu mengendurkan 
jubah buat membiarkan dia 
memasang kaitan di belakang, dan ketika dia berbalik ke arahnya, Jack 
tidak bisa menghindari tetapi 
matanya mengarah pada belahan 
dada Emma yang menyenangkan. “Oh… apa rantainya kepanjangan?” 
ia berharap, menatap kalung yang 
melingkar diatas dada lezatnya. “Tidak pa… ini menyenangkan” dia 
tersenyum, menangkap dia 
memandang ke sana lebih banyak 
dari yang seharusnya diperlukan. 

“Oh terima kasih banyak…” Emma 
menciumnya dengan agak antusias 
dibanding yang perlu dilakukannya 
dan putus tiba-tiba dengan sebuah 
gairah dipermalukan. Kemudian Jack 
menangkap momen itu, menarik punggungnya seolah-olah 
meredakan kebingungannya dan 
menciumnya dengan perasaan jauh 
lebih dibandingkan perasaan 
seorang mertua. “Selamat ulang tahun sayang” 
katanya, saat senyuman mereka 
berubah jadi lebih serius. “Oh terimakasih papa” Emma 
menciumnya kembali, menyadari ini 
adalah titik yang tak bisa kembali 
lagi, dan kali ini membiarkan 
lidahnya ‘bermalas-malasan’ 
terhadapnya. Dia baru saja mempunyai waktu buat 
merapatkan jubahnya kembali saat 
Paul menelponnya buat ucapkan 
selamat malam dan sedikit 
investigasi. Paul ingin bicara pada 
papanya dan memintanya agar menyimpan cintanya buat ibunya 
yang sudah meninggal. Mata Emma 
tertuju pada Jack saat dia 
menenteramkan hati putranya di 
telpon, mengetahui dia akan 
membiarkan pria ini melakukan apapun… “Aku sangat suka ini pa…” Emma 
tersenyum ketika telpon dari Paul 
berakhir. Dia menggunakan alasan 
memperhatikan kalungnya buat 
membuka jubahnya lagi, kali ini 
sedikit lebih lebar. “Apa sampeyan pikir ini cocok buatku?” “Mmm oh ya…” dia tersenyum, 
matanya menelusuri bagian atas 
gundukan lezatnya, dan buat 
pertama kalinya membiarkan 
gairahnya tumbuh. Emma secara 
terbuka mempresentasikan payudaranya buat kekasihnya, 
membiarkan dia menatapnya ketika 
dia membusungkan dadanya jauh 
lebih lama dibandingkan cuma 
sekedar buat memandangi kalung 
itu. Dia mengangkat tangannya dan memegang mainan kalung itu, 
mengelus diantara dadanya, 
menatap tajam ke dalam matanya. “Kamu terlihat luar biasa dengan 
memakainya” dia tersenyum. Nafas Emma yang memburu adalah 
nyata ketika tangan kekasihnya telah 
menyentuhnya di sana, dan 
pandangannya yang memikat saat 
kekasihnya menyelami matanya 
memberi dia tiap-tiap dorongan. Mereka berdua tahu apa yang akan 
terjadi kemudian, sudah terlalu jauh 
untuk menghentikannya sekarang. 
Dia akan bercinta dengan papa 
mertuanya. Mereka berdua juga 
menyadari, bahwa tak perlu terburu-buru kali ini, mereka harus 
lebih dulu membiarkan berjalan 
dengan sendirinya, dan walaupun 
kemudian itu akan menjadi 
resikonya nanti. Emma bisa menontonnya sekarang 
kalau ‘pertunjukannya’ yang nakal 
telah memberi efek pada gairah 
kekasihnya. Gundukan yang terlihat 
nyata di dalam jubahnya menjadikan 
jantungnya berdebar kencang, dan kekasihnya menjadi bangga ketika 
melihatnya menatap itu, seperti 
halnya dia yang memandangi 
payudaranya. “Kamu sudah cukup merayuku… 
kamu nakal!” Emma tersenyum pada 
kata-kata terakhirnya, memberi dia 
pelukan yang lain. Pelukan itu 
berubah menjadi sebuah ciuman, 
dan kali ini mereka berdua membiarkan perasaan mereka 
menunjukkannya, lidah mereka 
saling melilit dan memukul-mukul 
satu sama lain. Emma merasa tali 
jubahnya mengendur, dan Jack 
segera merasakan hal yang sama. “Oh Jack…kita tak boleh” dia 
menjauh dari kekasihnya sebentar, 
tidak mampu buat hentikan dirinya 
dari pemandangan jubahnya yang 
terbuka cukup lebar buat menonton 
ujung buah zakarnya yang tak terukur membesar diantara pahanya yang 
kuat. “Ohh Emma … aku tahu…. tapi kita 
harus” dia menarik nafas enak, 
memandang pada perutnya buat 
melihat kewanitaannya yang 
sempurna, telah merekah dan 
mengeluarkan cairannya. Detak jantung Emma bahkan jadi lebih 
cepat saat dia lihat tonjolannya 
menghentak lebih tinggi ke udara 
saat kekasihnya memandang bagian 
paling intimnya. “Oh Jack sayang…” desahnya pelan 
saat kekasihnya memeluknya, 
jubahnya tersingkap dan dia terpana 
akan tonjolannya yang sangat jumbo 
di bagian bawahnya. Itu sepertinya 
memuat dua prem ranum yang membengkak dengan benihnya 
yang berlimpah. Dia tak bisa 
hentikan dirinya sekarang… dia 
membayangkan dirinya berenang di 
dalamnya. “Emma cintaku…betapa lamanya aku 
menginginkanmu…” katanya saat ia 
menggapai paha Emma. “Oh Jack… seandainya aku tahu… 
setiap kali Paul bercinta denganku 
aku membayangkan itu adalah sampeyan 
yang di dalamku… papa termanis… 
apakah aku terlalu jahat buat 
katakan hal seperti itu?” “Tidak kekasihku…” jawabnya, 
mencium lehernya dan turun pada 
dadanya, dan membuka jubahnya 
lebih lebar lagi buat agar tangannya 
dapat memegang payudaranya. 
Mereka berdua ingin memanfaatkan momen itu… “Apakah sampeyan ingin aku di sana 
sekarang?” “Oh Jack… ya… papa” erangnya 
kemudian mengangkat jubahnya 
dan tangannya meraih buah zakarnya. “Aku sangat menginginkannya” “Oh Emma…. kekasihku, apakah ini 
yang sampeyan ingin?” dia mengerang, 
memegang jarinya di sekitar batang 
berdenyutnya yang sangat jumbo. “Oh ya papa… buah zakarmu… aku ingin 
penis papa di dalamku” “Sayangku yang lucu…apa sampeyan 
menginginkannya di sini?” 
kekasihnya melenguh, menjalankan 
jemarinya yang pintar sepanjang 
celah itu, menggodanya, membuat 
matanya memejam dengan sedap. Emma hampir merintih ketika dia 
menatap mata kekasihnya. “Mmmm buah zakar papa di dalam 
vaginaku” 

“Ahhh anak lucuku tercinta” Emma 
menjilat jarinya dan menggosoknya 
secara lembut di atas ujung 
kejantanannya yang terbakar, 
membuat kekasihnya merasa ngeri 
dengan kegembiraan. “Kamu ingin jadi nakal kan pa…kamu 
ingin orgasme di dalamku” Emma 
menggoda, meninggalkan 
pembesaran tonjolan yang bagus, 
dan mengalihkan perhatiannya 
kepada buah zakarnya yang membengkak. Sekarang adalah giliran kekasihnya 
untuk menutup matanya dengan 
gairah yang mengagumkan. “Kamu ingin meletakkan spermamu 
di dalam istri putramu… sampeyan ingin 
melakukan itu di dalam vagina cw 
kecilmu” Dia hampir 
menembakkannya bahkan waktu 
Emma menggodanya, tetapi entah bagaimana menahan ombak 
klimaksnya, dan mengembalikannya 
pada Emma, keduanya sekarang 
saling memegang pinggang satu 
sama selanjutnya. “Dan sampeyan ingin benih papa di dalam 
kandunganmu kan… dalam 
kandunganmu yang dahaga… 
membuat seorang bayi kecil di dalam 
kandungan suburmu” dia tak bisa 
semakin dekat kepada tanda buatnya… Emma telah memimpikan 
kekasihnya memberinya seorang 
anak, Emma gemetar dan menggigit 
bibirnya saat jari tangan kekasihnya 
diselipkan di dalam saluran 
basahnya. “Papa… oh ya… ya… tolong… aku 
sangat menginginkannya…” Paul 
belum pernah punya keinginan 
membicarakan tentang hal itu… 
Emma tak benar-benar mengetahui 
apakah dia ingin seorang anak, sekalipun begitu pemikiran itu 
menjadi sebuah gairah yang luar 
biasa. Bibirnya menemukannya lagi, 
dan tenggelam dalam gairahnya, 
lidah mereka melilit lagi dengan 
bebas tanpa kendali yang sedemikian lucu. Emma 
membiarkan jubahnya terbuka 
seluruhnya sekarang, menekankan 
payudaranya secara lembut melawan 
dada berototnya, perasaan geli 
membuat cairannya lebih berlimpah. Jantungnya terisi dengan 
kenikmatan dan antisipasi, pada 
pikiran bahwa dia menginginkan 
dirinya…bahwa seluruh gairah Emma 
akan terpenuhi dengan segera. “Oh cw lucuku yang jahat ” 
lenguhnya saat bibir Emma 
menggodanya. “Aku akan pergi sebentar” dia 
tersenyum dengan mengundang 
saat dia menoleh ke belakang dari 
pintu. “Jangan pergi” Emma melangkah ke 
lantai atas, jubahnya berkibar di 
sekitarnya lagi saat dia 
memandangnya. Emma tak perlu 
merasa cemas, suaminya sedang 
berada jauh di sana dengan segala egoisme kesibukannya, dan Emma 
mengenal bagaimana kebiasaanya. 
Jantung Emma dilanda kegembiraan 
lebih ketika dia melepaskan 
jubahnya dan berjalan menuju dia… 
pada papa mertuanya… tanpa pakaian dan siap buat menyerahkan dirinya 
seluruhnya kepada kekasihnya. Ketika dia mendengar langkah kaki 
Emma pada tangga, dia lalu keluar 
dari jubahnya dan sekarang berlutut 
di atas permadani di depan perapian, 
menghadapinya ketika dia masuk, 
ereksinya semakin jumbo dalam posisi demikian. Emma berlutut di 
depannya, tangannya memegang 
obyek hasratnya, yang berdenyut 
sekilas, lembut dan demikian sexy 
dalam sentuhannya. Matanya 
terpejam dalam kenikmatan murni saat Emma berlutut dan mencium 
ujung merah delima itu, matanya 
terbuka meresponnya, dan mengirim 
beberapa tetesan cairan lezat kepada 
lidah penggemarnya. Kekasihnya 
mengelus payudaranya dan menggoda puting payudaranya yang 
gemuk itu. “Aku sudah siap pa… malam ini 
seutuhnya milikmu” “Emma sayang, sampeyan indah sekali…” 
kekasihnya memujinya dan dia 
tersenyum dengan bangga. “Oh Papa… kumohon. Aku sangat 
menginginkannya … aku ingin 
benihmu di dalamku” “Sepanjang malam cintaku…” 
kekasihnya tersenyum, rebah 
bertumpu pada sikunya lalu 
menyelipkan tangannya diantara 
paha Emma. “Kita berbagi tiap momen” Emma 
rebahan pada punggungnya, 
melebarkan lututnya membiarkan jari 
kekasihnya berada di dalam 
rendaman vulvanya. “Ohh mmm papa sayang… ” Emma 
melenguh saat jari kekasihnya 
merangsang tunas senang-senangnya 
tanpa ampun. “Mmm betapa aku sangat memuja 
perempuan kecilku… ” kekasihnya 
menggodanya ketika wajahnya 
menggeliat di puncak senang-senang. “Ohh papa… rasakan bagaimana 
basahnya aku buatmu” “Apa anakku yang lucu sudah 
basah buat buah zakar papa? Mmmm 
penis papa di dalam vagina sexy 
gadis kecilnya…. buah zakar jumbo papa di 
dalam vagina cwnya yang sexy, 
vagina basah…” kata-katanya diiringi dengan tindakan saat dia bergerak 
diantara pahanya, tongkatnya 
berdenyut dengan bernafsu saat dia 
mempersiapkan lututnya. “Setubuhi aku pa… masukkan 
penismu ke dalamku” “Sayang… Emma yang nakal… buka 
vaginamu buat buah zakar papa” tangan 
mereka memandu, kejantanannya 
membelah masuk kewanitaannya. “Papa… sepenuhnya buatku kan?” “Ya putriku lucu… sperma yang 
penuh buat kandunganmu… apa 
kamu akan membuat papa 
melakukan itu di dalam tubuhmu?” “Ahh ya papa… aku akan 
membuatmu memberikan semuanya 
ke dalam tubuhku… ahh ahh ahh” 
Emma mulai menggerakkan 
pinggangnya…takkan menghentikan 
dirinya saat dia membayangkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam 
sebuah senang-senang yang sempurna, 
mereka bergerak dengan satu 
tujuan, yang ditetapkan oleh kata- 
katanya. 

“Ahh ya papa… aku akan 
membuatmu memberikan semuanya 
ke dalam tubuhku… ahh ahh ahh” 
Emma mulai menggerakkan 
pinggangnya…takkan menghentikan 
dirinya saat dia membayangkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam 
sebuah senang-senang yang sempurna, 
mereka bergerak dengan satu 
tujuan, yang ditetapkan oleh kata- 
katanya. “Papa akan menebarkan semuanya 
ke dalam kandunganmu yang 
subur… sperma papa akan membuat 
bayi di dalam kandunganmu Emma 
sayang” tangan kekasihnya 
mengayun pantatnya sekarang saat dia mulai menusuk lebih dalam, 
matanya menatap kekasihnya ketika 
dia menarik pantatnya yang berotot, 
mendorong lebih lanjut ke dalam 
tubuhnya… memberinya hadiah yang 
sangat berharga. Penis jumbonya menekan dalam dan 
panjang, buah zakarnya yang berat 
menampar pantatnya saat dia 
mendorong ke dalam 
kandungannya. Dia tak bisa 
menolong, cuma menontonnya, setiap gerakan mereka yang 
mendatangkan sedap… 
membayangkan waktunya akan 
segera datang… memancar dari 
kekasihnya… berenang di dalam 
dirinya… membuatnya mengandung anaknya. Dia menggelinjang saat 
kekasihnya menyusu pada puting 
susunya yang diremas keras, tangan 
besarnya meremas payudaranya 
bersama-sama saat dia 
mengocoknya berulang-ulang. Dia berteriak, menaikkan lututnya 
setinggi yang dia bisa buat 
memaksanya lebih dalam ke bagian 
terdalam vaginanya. Kekasihnya 
menghentak lebih cepat, meremas 
pantatnya buat membuat sebuah lingkaran yang ketat pada 
vaginanya… momen yang sempurna 
mendekat dengan cepat saat dia 
menatap mata kekasihnya yang juga 
dipeluk selimut puncak surgawi. 
Emma memperlambat gerakan kekasihnya, menenangkannya 
ketika waktunya datang… “Aku ingin menahanmu jauh di 
dalam tubuhku saat sampeyan keluar… 
saat sampeyan memompa benihmu ke 
dalam tubuhku” “Oh sayang…ya lucuku…tahan aku 
saat kukeluarkan spermaku ke 
dalam kandunganmu” Dia merasa itu membesar di dalam 
cengkramannya, urat gemuk 
penisnya siap buat berejakulasi, 
dan kemudian menghentak dengan 
liar, dan dengan masing-masing 
semburan yang dia rasa pancarannya yang kuat 
menghantam dinding 
kewanitaannya, membasahi 
hamparan ladangnya yang haus 
kekeringan. Bibir mereka bertemu 
dalam lilitan sempurna, tangisan Emma membanjiri kekasihnya kala 
kekasihnya menyembur dengan 
deras ke dalamnya. Punggung Emma 
melengkung, mencengkeram 
penisnya sangat erat saat ombak 
kesenangan menggulungnya. Dia ingin menahannya di sana buat 
selamanya… Jantung mereka berdegup sangat 
keras ketika mereka berbaring 
bersama, terengah-engah, sampai 
mereka bisa berbicara. “Oh Tuhan Emma…aku sangat 
menginginkanmu…” Dan buat beberapa hari kedepan, 
tak ada sepatah katapun yang 
sanggup melukiskan momen itu… 

TAMAT.

☞ Perhatian perempuan kerudung digenjot wanita nakal berahi pelacur sexy kontol jumbo ✪ Topik: Foto Telanjang Cerita Seks | Aku Obat Awet Muda Mama Vita sudah pasti sexy

Cerita Seks | Aku Obat Awet Muda Mama Vita - Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Mama Vita (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.
Tante Vita ini tinggal dekat rumahku, cuma beda 5 rumahlah, nah Mama Vita ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Mama Vita inilah yang bikin aku cepet jumbo (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

Biasanya Mama Vita kalau ke rumah Aku selalu memakai daster bisa pula kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura lihat TV saja sambil lirak lirik. Mama Vita ini entah sengaja bisa pula tak aku juga enggak tahu yah. Dia suka kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Mama Vita ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih). Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai sexy dingin tapi Mama Vita malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Mama yang satu itu. Setiap hari pasti Aku menonton yang namanya paha sama celana dalem tuh Mama.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu cuma bawa anaknya, nah ketahuan Mami Aku ngsajak Aku pasti Mama Vita pula ikut wah enak juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung. Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Mama Vita mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Mama Vita di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.
Lalu Mama Vita menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Mama Vita, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Mama Vitan ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Don temenin Mama yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Mama takut nih”, kata Mama Vita sambil mulai berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Mama Vita kencing, dalam hatiku, kalau saja Mama Vita boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Mama Vita.
“Heh kenapa sampeyan Don kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Mama Vita.
“Ah enggak apa-apa Mama”, jawabku.
“Pasti sampeyan lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok menontonnya ke bawah terus sih?”, tanya Mama Vita.
“Enggak kok Mama, aku cuma belum pernah liat cw kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cw?” tanyaku.
Tante Vita cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat Don? Nih Mama kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Mama enggak enak sama Mamamu”, kata Mama Vita.
Aku cuma mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai sexy dingin karena baru kali ini Aku megang sama menonton yang namanya vagina. Mama Vita membiarkanku memegang-megang vaginanya.
“Sudah yah Don nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Mama”, jawabku.
Lalu Mama Vita menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku sexy dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena tubuhku enggak enak.
“Don, sampeyan enggak ikut?” tanya jandaku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak tubuh nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Vita, sampeyan mau kan tolong jagain si ADon nih yah, nanti kalau sampeyan ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Mama Vita.
“Iya deh Kak aku jagain si ADon tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Mama Vita.
Akhirnya mereka semua pergi, cuma tinggal aku dan Mama Vita berdua saja di villa, Mama Vita baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Don? kok lemes gitu?” tanya Mama Vita sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Mama kepalaku juga pusing sama sexy dingin aja nih yang di rasa” kataku.
Tante Vita begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yang mana Don atas apa yang bawah?” kelakar Mama Vita padaku.
Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Mama? kan kepala kita cuma satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang sampeyan suka tutupin pake segitiga pengaman” kata Mama Vita sambil memegang si kecilku.
“Ah Mama bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan sampeyan sakit gara-gara semalam yah” aku cuma diam saja.
Selesai sarapan tubuhku dibasuh air hangat oleh Mama Vita, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Mama biar ADon saja yang ngelap, kan malu sama Mama”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Mama Vita sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku cuma diam saja.
“Don mau enggak pusingnya hilang? Biar Mama obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah sampeyan tenang saja yah” kata Mama Vita.
Lalu di genggamnya batang buah zakarku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga buah zakarku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku cuma mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Mama Vita yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Mama Vita cuma diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Mama saja yah enggak apa-apa kok” kata Mama Vita.
Aku bingung campur heran menonton buah zakarku dikulum dalam mulut Mama Vita karena Mama Vita tahu aku sudah mau keluar dan aku cuma bisa diam karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Mama aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Mama Vita yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Vitapun langsung menghisap dengan agresifnya dan tubuhku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Mama Vita, Mama Vita pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Mama Vita berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Mama Vita lembab dan agak basah.
“Enak kan Don, pusingnya pasti hilang kan?” kata Mama Vita.
“Tapi Mama aku minta maaf yah aku enggak enak sama Mama nih soalnya Mama..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing sampeyan kok kental banget, wangi lagi, sampeyan enggak pernah ngemut Don?”
“Enggak Mama”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Mama Vita.
“Loh tangan sampeyan kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Mama ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak ADon megang itu Mama lagi” pintaku pada Mama Vita.
Tante Vita pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Mama Vita basah entah kenapa.
“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Mama nafsu Don sampai-sampai celana dalam Mama basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Mama Vita dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Mama Vita duduk setelahku
“Don pegang nih enggak apa-apa kok sudah Mama lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Mama Vita dengan tangan yang agak gemetar, Mama Vita cuma ketawa kecil.
“Don, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Mama Vita.
Dia mulai memegang buah zakarku lagi, “Don Mama mau itu nih”.
“Mau apa Mama?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Mama Vita.
“Hmm itu tuh, punya sampeyan di masukin ke dalam itunya Mama sampeyan mau kan?”
“Tapi ADon enggak bisa Mama caranya”
“Sudah, sampeyan diam saja biar Mama yang ajarin sampeyan yah” kata Mama Vita padaku.
Mulailah tangannya mengelus buah zakarku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Mama Vita yang di tumbuhi rambut halus.
“Don jilatin donk punya Mama yah” katanya.
“Tante ADon enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Don”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Mama Vita di atas dan tanpa pikir enak Mama Vita pun mulai mengulum buah zakarku.
“Achh.. hgghhghh.. Mama”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Mama Vita tak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Mama Vita seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Mama Vita sambil tanganku melepaskan kaus u can see Mama Vita dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama tanpa pakaian bulat.
Tante Vita pun masih enak mengulum buah zakarku yang masih layu kemudian Mama Vita menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Don” kata Mama Vita.
Aku cuma menggelengkan kepala dan Mama Vita pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan buah zakarku pun mulai bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku cuma menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Mama Vita pun langsung menjilati buah zakarku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Mama Vita mengeras, Mama Vita menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok buah zakarku, tanganku pun meremas payudara Mama Vita. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Mama Vita, langsung Mama Vita kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Mama Vita seperti menjilati es krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Don enak banget terus Don, yang itu isep jilatin Don” kata Mama Vita sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Mama Vita tanpa sengaja tertelan olehku.
“Don masukin donk Mama enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”
Tante Vita pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas buah zakarku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Mama Vita naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Mama Vita pun mengejang hebat.
“Don Mama mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Mama Vita.
Akupun di suruhnya buat menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Mama Vita. Hmm sangat pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Mama Vita mungurut-urut buah zakarku dan juga menyedotnya. Kurasakan Mama Vita sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Mama Vita tak mencabut buah zakarku dan membiarkanya di dalam vaginanya.
“Don nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Mama Vita padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Mama Vitapun langsung mengocok buah zakarku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.
“Achh .. Mama enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante ADon kayanya mau kencing niih”
Tante Vita pun langsung bangun dan mengulum buah zakarku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku buat yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Mama Vita pun menelannya dan menghisap ujung kepala buah zakarku buat menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan tanpa pakaian bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Mama Vita menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Mama Vita yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Mama Vita, sehabis itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Mama Vita setelahku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Mama Vita. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Mama Vita, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Don sampeyan sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si ADon sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Mama Vita.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti sexy” kata Mama Vita.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk setelah Mama Vita yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Mama Vita.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Mama Vita bila rumahku kosong bisa pula terkadang ke hotel dengan Mama Vita. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Mama Vita sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui bahwa suami Mama Vita ternyata menagalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Mama Vita.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Mama Vita bahkan aku jadi lebih suka dengan perempuan yang lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Mama Vita yang nasibnya sama seperti Mama Vita, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.

pasti ditujukan kepada senang-senang. minta maaf bilamana film bisa pula gambar beserta laki-laki sampeyan yang cobalah. bersangkutan cumalah buat muncul admin tak ada niat kerudung cantik gambar tanpa pakaian film melecehkan.

☞ selamat tanpa pakaian bisa pula ✪ Topik: Foto Telanjang Cerita Seks Denyutan Memek Mama Lidya sudah pasti sexy

Cerita Seks Denyutan Memek Mama Lidya Di rumahku cuma ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil wanita nakal lidya. Tapi jangan kaget lho! tubuhnya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam luculah menurutku). Agak kaget juga saya, sehabis dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.


Perlahan dilepaskannya roknya, dan terlihatlah pahanya yang merangsang dengan celana dalam warna pink. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.
“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu wanita nakal, aku pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.
“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.
“tante tau tak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa saya benar-benar terangsang.
Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, wanita nakal tak percaya, sampeyan pasti cuma iseng, mau mempermainkan wanita nakal, ya..?” katanya membalas ucapanku.
“Kalau tak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol jumbo di bagian buah zakarku.
“Bener juga, sampeyan tak boong.., sampeyan terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.

Agak lama dia menontonnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.
“Sekarang kita sama-sama buka, gimana wanita nakal..?” kataku memberi tawaran gila.
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin menonton buah zakarku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.
“Wow.. punyamu lebih jumbo dari yang wanita nakal bayangkan, tapi wanita nakal suka yang jumbo seperti ini.” katanya sambil mengelus, menyentuh kepala buah zakarku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.
“Aahh.. ” saya mengerang sedap, sementara dia terus mengocok sampai buah zakarku terlihat memanjang maksimal.

Mungkin dia sudah tak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap buah zakarku.
“ahh.. ah.. sedap sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, rambut-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir nonoknya.
“Oh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh..!” suaranya mendesah-desah.
Kudekatkan wajahku ke pukinya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Saya merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti sexy sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya buat pertama kali.

“Ohh.. sampeyan udah keluar Mas.. enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.
“Ouch.. lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.
“Sekarang saya masukin ke bawuk wanita nakal aja, oke..?” kataku sudah tak sabaran.
“ya Mas, wanita nakal juga sudah tak tahan nich..!” katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.

Sambil memegang buah zakarnku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala kontolku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.
“ahh.., terus Mas, lebih dalam..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kontolku di dalam nonoknya. Sementara tanganku tak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.

Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.
“tante, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih sedap..!” kataku ingin mencoba gaya lain.
“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.
“tante menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan wanita nakal membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.
Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat menonton celah vaginanya menonton dari belakang. Bersama memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Bersama sedikit tekanan, kepala buah zakarku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak kan..?” kataku.
“iyya lebih enak dari yang tadi, oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.
“Ini belum seluruhnya lo wanita nakal, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.
“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.

Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa sedapnya, serasa berada di awang-awang.
“Ah.., oh.., aah.., sedap sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.
“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti cepat-cepat, goyangin terus wanita nakal..!” kataku.

Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke pukinya, rasanya saya sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.
“tante, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.
Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..” dengan erangan enak, saya memuntahkan spermakau di vaginanya.
Bersamaan dengan itu wanita nakal juga mengerang enak, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., sedap.. ah..”
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.

Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.

di PUKI.PW situs sampeyan buat menonton gambar menonton judul film cabul cabul kesayangan selanjutnya yang enak disaksikan. seperti saja admin cw ngemut kontol jumbo gambar setelah wanita nakal payudara jumbo. mengunduh film cabul pelacur Suka ngentot sexy terbaru bisa pula juga bahasan keenakan dan ✪ Topik: Foto Telanjang Cerita Seks Bersama Kekasihku sudah pasti sexy

Cerita Seks Bersama Kekasihku Suatu hari, aura ungkapkan isi hatinya kepada saya bahwa Dia suka kepada saya, dan saya pun membalas cintanya juga. Hari demi hari kami lalui hingga pada hari libur kuliah. Kami jalan-jalan menggunakan Genio merahnya. saya yang mengendarai mobilnya. Dalam perjalan, kami mesra, di sandarkan kepalanya di bahuku, saya belai rambutnya dengan tangan kiriku. Dia makin mesra dan Dia mencium bibirku. saya balas ciuman bibirnya. Udara dingin yang keluar dai AC mobil terasa sexy rasanya karena kami sudah HOT. saya dekap kepalanya, saya remas dada yang terbungkus Bra, dan Dia menonton remasan tanganku.


Kami sampai di puncak, yaitu di sebuah kawasan wisata terkenal di Medan, namanya Brastagi yang berhawa dingin dan sejuk. Karena kami sudah HOT, Dia berbisik ketelingsaya, “Bang.. kita nginap aja yah?” pintanya.
“Di mana?” katsaya heran.
“Di Penginapan aja.”

saya tak tahu Penginapan apa yang di maksudkan, saya cuma menurut saja. Dia yang membawa jalan.
“Terus aja Bang, nanti sampai di tikungan belok kanan Bang.” pintanya.
saya lihat memang di sebelah kanan ada Penginapan yang megah. Dia menyuruh belok. Maklumlah, saya baru dua kali ke daerah yang kami tuju. Waktu itu saya beserta temanku mendaki gunung yang namanya gunung Sibayak. saya belokkan mobil, saya cari tempat parkir yang aman, kami turun dan masuk ke Penginapan itu. Kalau tak salah, Penginapan itu namanya Penginapan Sibayak karena jelas terpampang papan nama Penginapan itu. Setelah kami masuk dan pesan kamar, kami diantar room-man. Karena bangkit lagi napsu yang tertu
nda itu, begitu masuk kamar, saya kunci pintu. Kudekap dan kupeluk Dia. Kami berciuman dan berguman di ranjang.

“Hemm.. ouuhh..” desisnya, dan saya buka perlahan-lahan baju serta BH-nya hingga polos.
saya kulum dan kuremas buah dadanya yang cukup jumbo dengan pucuk yang berwarna merah muda, terus saya kulum kiri dan kanan.
Dia berdesis seperti ular, “Uhh.. ahh.. ouuhh..”
Dari lehernya, saya jilatin, terus turun ke perut dan makin ke bawah perlahan-lahan. saya buka celana jeans yang dia pakai hingga lepas dan saya lihat Dia memakai celana dalam berwarna putih. Perlahan-lahan, saya buka hingga terpampang di depanku sebuah bukit yang di tumbuhi hutan yang begitu lebat. saya sibak hutan itu, kuciumi dan kujilat.
“Ouuhh.. ahh.. yahh.. ouugg..” desisnya.
saya semakin nafsu dan saya buka baju serta celansaya sehingga kami sama-sama tanpa pakaian.

Batang kejantananku yang sudah dari tadi tegang makin keras tegangnya ingin mencari sasaran. Dan kujilat vaginanya dan kelentitnya yang timbul dengan tiba-tiba akibat napsunya makin memuncak.
“Ahh.. ouugg.. ahh.. yaahh..” desisnya terus.
saya jilat terus kelentitnya.
“Bangg.. sayau.. gak.. tahann.. mauu..”
Dia mencapai klimaks, saya jilat terus. Terasa asin air yang keluar dari vaginanya. saya buka pahanya lebar-lebar dan perlahan-lahan saya bimbing batang kejantananku ke vaginanya. Kuarahkan pas di vaginanya, saya dorong perlahan-lahan.
Dia kesakitan, “Aduhh.. bangg sakit..”
saya berhenti sejenak karena Dia kesakitan. Kuulangi lagi doronganku dengan perlahan dan pasti.

“Slupp..” sempit sekali vaginanya hingga batang kejantananku tak bisa masuk. saya dorong kedua kalinya, “Slupp..” cuma ujung kepala batang kejantananku saja yang masuk. saya dorong terus tapi kali ini lebih kuat.
“Slupp.. slupp.. bluss..plopp..” masuk batang kejantananku semua ke vaginanya.
saya menonton darah keluar dari vaginanya. Ternyata Dia masih “virgin” (perawan).
Dia kesakitan, “Aduhh.. bangg.. sakitt.. bangg..”
saya diamkan sejenak batang kejantananku di dalam vaginanya dan saya kulum buah dadanya yang menjulang karena nafsunya. saya maju-mundurkan lagi batang kejantananku perlahan-lahan saya mendengar Dia mengaduh lagi, “sakit bang.. pedih.. tapi enak bang..” gumannya.
Terus saya maju-mundurkan batang kejantananku.
“Auoo..ahh.. yahh.. aoouupp.. yaa.. terus bang.. enak bangg.. yahh..” Dia klimaks kedua kalinya.
saya terus menyodok vaginanya maju mundur.
“Ohyahh.. ouhh.. yahh..” desisnya.
Seperti ada yang meyedot batang kejantananku dari dalam vaginanya. saya makin cepat menyetubuhinya, hingga ada yang mengalir di dalam batang kejantananku sampai ke ujung batang kejantananku. saya dorong terus.
“Yahh.. aouuhh.. yaa..” desisku, karena tiba-tiba alirannya semakin kuat naik ke kepala batang kejantananku, saya pacu terus.
“Yahh.. aouuhh.. yess.. ouugg.. yahh.. saya mauu..” tak sempat kulanjuti lagi kata-katsaya, tiba-tiba, “Croott.. croott.. croott..” maniku keluar banyak, saya tembakkan di dalam vaginanya.
Dia berdesis, “Ouhh.. yahh.. uugghh.. ouhh..,” ternyata Dia mau klimaks lagi.
Dan Dia pegang erat leherku, Dia mencengkram erat sekali sampai ada bekas kukunya di leherku.
“Yahh.. ouhh.. ya.. yaee.. yaa..” Dia klimaks lagi ketiga kalinya.

Kubiarkan batang kejantananku di dalam vaginanya. saya berbaring di atas tubuhnya sejenak. Karena kelelahan, kami istrahat sejenak. saya kecup kening dan bibirnya dan saya balikkan tubuhnya sehingga Dia ada di atas dadsaya dan batang kejantananku tak saya cabut dari vaginanya. Kami tertidur karena lama kami bergelut, kira-kira 2 jam lamanya sampai jam 3 pagi. saya terbangun dan tiba-tiba batang kejantananku bangkit kembali. saya balikkan tubuhnya tepat di bawah saya. saya sodok lagi vaginanya. Dia terbangun dan saya sodok terus vaginanya.
“Slupp.. slup.. slupp..”
Tidak lama, “Ouuhh.. yahh.. croott..croott..crott,” maniku keluar lagi, saya lemas dan tertidur di sebelahnya sapai pagi.

saya terbangun pada jam 9 pagi. saya bangunkan Dia dan kami mandi beserta. Kami melsayakan lagi di kamar mandi sampai puas. Setelah itu kami bersiap-siapa buat keluar dari hotel itu dan kami bayar uang sewa hotel.

Kami jalan-jalan di sekitar daerah kota Brastagi. Kami sampai di daerah yang belum pernah saya kesana, kalau tak salah namanya Kaban jahe. Kami keliling-keling kota dan kami pulang ke Medan. Kami terus bermesraan, Dia merangkulkan tanganya di leherku, dia cium mesra bibirku sampai saya tak bisa bernafas. Tiba-tiba di depan ada mobil yang berlawanan arah mau nabrak mobil kami. saya banting setir ke kiri sehingga kami selamat dari maut. Setelah itu Dia tak berani menciumi saya lagi karena tsayat. Kemudian kami berhenti di daerah yang kalau tak salah namanya Penatapan. Orang-orang di daerah sana meyebutnya begitu karena banyak orang di sana menonton-lihat. Setelah kami puas menonton-lihat kami melanjutkan perjalan kembali ke Medan dan mobil kami terus meluncur merangsang sampai di Medan.

saya berhentikan mobil kami di depan tempat kostku. saya membawa Dia masuk ke dalam dan saya perkenalkan kepada nenek serta cucu pemilik kost. Mereka menyambut dengan ramah. saya membawa masuk ke kamar kost saya yang berukuran 3×4 luasnya. saya kunci pintu kamar. saya peluk Dia, kucium, dan kuremas dadanya yang menantang.
Dia membalas dengan desis suara nafsunya, “Aouuhh..ahh..,” kami bergumul selama 20 menit.
Kubuka semua pakainya, Dia juga membuka pakainku hingga kami sama-sama polos. Batang kejantananku yang sudah tegang dari tadi kuarahkan ke vaginanya yang masih sempit, maklum karena baru hilang perawanya.
saya arahkan batang kejantananku tepat di vaginanya, “Slupp.. slerr.. slupp.. blees..” masuk sudah batang kejantananku. saya sodok terus.
Dia berdesis lagi, “Aouhh.. yahh..”
Karena saya tsayat terdengar sama nenek dan cucu yang punya rumah, saya sumbat mulutnya pakai mulutku hingga Dia tak bisa bersuara. Terus saya sodok vaginanya, “Auohh.. ahh.. ahh.. Bangg.. saya mau keluar nih..”
saya pacu terus sampai Dia klimaks, “Serr..” Dia kelimax terasa di kepala batang kejantananku. saya masuki terus vaginanya tampa henti sampai klimaks.
“Aouh.. yaa.. ouh..” suara desisan nafsuku.
saya pacu terus batang kejantananku sampai, “Croott..croott..” saya keluarkan maniku di dalam vaginanya.
Kami sama-sama puas dan tertidur sejenak Kemudian saya berbenah diri, Dia juga. saya antar Dia pulang kerumahnya dan saya kembali ke tempat kostku.
sumber

di situs vagina Mama tanpa pakaian cerita sexy PUKI.PW pasti enak.

- ✪ Topik: Foto Telanjang Pasangan Dan Guru Mesum sudah pasti sexy

Pasangan Dan Guru Mesum 

Selama dua hari, aparat dari Polresta Makassar Timur menggelar operasi terorisme. Hasilnya, 30 pasangan berahi tertangkap.

Operasi digelar di sejumlah hotel dan wisma, sepanjang Minggu (14/3) malam hingga Senin dini hari (15/3).

Tim operasi melibatkan Reskrim, Samapta dan Intelkam. Operasi dilakukan di lima wisma, yaitu Wisma Kumala di Jl Kumala, Wisma Bungaya di Jl Mappaouddang, Wisma Pelita di Jl Pelita dan Wisma Afod di Jl Pettarani, serta Wisma Safari Manunggal Jl Landak Baru.

Dari lima wisma ini, aparat malah mendapatkan 30 pasangan yang diduga berahi. Mereka berusia antara 16 hingga 20 tahunan. 

Mereka rata-rata berstatus pelajar SMA, mahasiswa perguruan tinggi negeri, swasta, karyawan dan masyarakat umum.

Saat ditemukan, mereka dalam keadaan berpakaian minim di dalam kamar wisma. Dari 30 pasangan ini tak ada yang bisa menunjukkan surat nikah. Kecuali KTP dan kartu pelajar/mahasiswa.

Di antara pasangan itu, terdapat juga yang di bawah umur, yakni 16 tahun. Pasangan ini diketahui masih duduk di bangku salah satu SMA negeri di Sungguminasa, Gowa.

Saat diamankan, sejumlah pasangan sempat menolak digiring ke mobil patroli.

Foto Cabul Guru

Dua guru sekolah menengah negeri sedang diselidiki sehabis serangkaian gambar-foto cabul muncul di situs jejaring sosial Facebook.

Gambar dengan jelas menggambarkan guru SMA Negeri Warwick Australia Ann Casey Helen Kerr dan pura-pura mengenakan seragam sekolah dengan stoking jala sedang bertengger di meja rias kamar mandi.

Salah satu gambar Kerr di Facebook profile diambil dengan rangkaian gambar yang berjudul ‘Hari pertama sekolah’, mudah diakses oleh para mahasiswa dan masyarakat luas.

Di bawah pengaturan Facebook, sebagian jumbo gambar seksual tak dapat diakses, kecuali seorang pengguna merupakan ‘teman’ dari guru. Namun kedua guru itu juga teman Facebook siswa WSHS yang baru lulus 2009.

Sementara serangkaian gambar tak menampilkan secara aktif situs Facebook Casey, tapi dengan mudah bisa melalui akun Facebook Kerr.

sumber

- ✪ Topik: Foto Telanjang Budaya Seks Remaja Indonesia sudah pasti sexy

Budaya Seks Remaja Indonesia


Kita sebagai warga negara indonesia harus merasa prihatin dengan semakin maraknya peredaran cabulgrafi di kalangan remaja dan anak-anak indonesia. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak (KPA) mengungkapkan 97 persen remaja pernah menonton bisa pula mengakses cabulgrafi. Pula didapatkan, sebanyak 62,7 persen remaja pernah melakukan hubungan tubuh bisa pula dalam istilah remaja Ngentot (making love) bisa pula ngentot.

“Survei KPA yang dilakukan terhadap 4.500 remaja di 12 kota jumbo seluruh Indonesia juga menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, dan 62,7 persen pernah berhubungan seks bisa pula ngentot, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi,” ujar Tifatul dalam siaran persnya di Jakarta.

“Ini sangat memprihatinkan, saya minta semua pihak ikut mendukung upaya pembatasan distribusi konten negatif, baik melalui internet, maupun dunia perfilman. Semuanya harus terlibat menjaga generasi muda kita,” ujar Tifatul.

Menkominfo juga menyatakan, pertarungan antar nilai-nilai budaya, pengaruh asing, setiap hari terus berlangsung, sehingga bangsa ini harus menjaga kekokohan nilai-nilai karakter bangsa. Jika tak, maka Indonesia akan kehilangan identitas sebagai bangsa jumbo.

“Penyebaran konten negatif tersebut banyak disalurkan melalui sarana IT, terutama konten asing yang dijual kepada kita, bahkan konten tersebut banyak yang merusak nilai-nilai budaya bangsa,” ujarnya.

Aduh bagaimana sepuluh tahun lagi mungkin sudah 100 persen anak remaja pernah ngentot dan perbuatan berahi tersebut sudah dianggap biasa bahkan keharusan bagi pasangan yang sedang berpacaran.
sumber
This entry was posted in Foto Bugil Pelajar and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.